Showing posts with label Pidato. Show all posts
Showing posts with label Pidato. Show all posts

Saatnya Pemain Bersikap"

Penulis: bepe, 09 January 2013
Setiap kata "jika" akan selalu diikuti dengan "maka". Dalam setiap tuntutan tentu harus disertai dengan batas waktu dan tindakan. Itulah yang sedang saya, kami, dan seluruh pemain sepakbola yang gajinya belum terlunasi, akan lakukan.

Di bawah bendera Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), kami mencoba untuk memperjuangkan hak-hak kami sesuai dengan pasal-pasal yang diatur dalam kontrak kerja yang kami sepakati bersama, antara klub dan juga para pemain.

Permasalahan keterlambatan gaji di dunia sepakbola Indonesia ini sejujurnya tidak hanya baru-baru ini saja terjadi, melainkan sudah bertahun-tahun atau mungkin puluhan tahun. Mengapa sekarang menjadi hal yang begitu besar, karena kebetulan banyak sekali kasus ketidakadilan yang menimpa pemain terjadi pada musim kemarin. Apalagi saat ini sudah ada Asosiasi Pemain Profesional Indonesia  (APPI) yang menaungi pemain profesional di Indonesia, sehingga mau tidak mau membuat hal tersebut mencuat ke permukaan.

Maka pertanyaannya adalah, sampai kapan kondisi ini akan terus terjadi berulang-ulang? Sampai kapan pemain dipandang sebelah mata oleh para pengurus dan pemilik klub?

Sampai kapan pemain dipaksa untuk mengerti dengan keadaan manajemen, sementara manajemen tidak pernah mau mengerti dengan segala permasalahan yang dialami oleh pemain? Sampai kapan kita hanya melakukan solidaritas dengan aksi "patungan", untuk membantu rekan kita sesama pemain yang sedang mengalami kesulitan akibat keterlambatan gaji?

Sepakbola sendiri pada hakekatnya dimainkan untuk menjalin persahabatan, persaudaraan, dan juga persatuan. Oleh karena itu, ada rasa saling menghargai di sana. Esensi itulah yang akhir-akhir ini mulai terkikis di negeri ini. Rasa saling menghargai antar pelaku sepakbola di Indonesia sudah mulai hilang.

Bisakah disebut saling menghargai, jika salah satu pihak dituntut untuk terus melakukan kewajibannya, akan tetapi di sisi lain hak-haknya tidak dipenuhi? Apakah itu namanya saling menghargai, jika salah satu pihak mengharapkan pengertian dari pihak lain, sedang segala permasalahan pihak yang lain tidak pernah mau mereka mengerti? Saling menghargai itu artinya dari dua arah, tidak hanya satu arah.

Kasus meninggalnya Diego Mendieta seharusnya dapat menjadi pelajaran dan menyadarkan kita semua. Betapa semena-menanya sebuah klub di negeri ini memperlakukan pemainnya. Walau memang pada kenyataannya tidak semua klub berlaku demikian, akan tetapi hal tersebut setidaknya dapat menjadi bukti jika rasa saling menghargai itu sudah tidak ada lagi.

Di negeri ini sepakbola sudah tidak lagi menjadi olahraga masyarakat. Sepakbola sudah menjadi olahraga para elit pengurus, yang mengatasnamakan rasa cinta terhadap sepakbola sebagai topeng, di balik segala hal bermuatan politik di belakangnya. Mereka tidak lagi memikirkan akibat yang akan diterima oleh para pelaku di lapangan dan juga masyarakat yang benar-benar mencintai olahraga paling populer di dunia ini.

Oleh karena itu, sekarang adalah saat di mana pemain harus mulai berani untuk mengambil sikap. Sekarang adalah saatnya pemain sadar jika mereka adalah aset, mereka adalah faktor penting, dan sebuah komponen berharga dalam bergulirnya sebuah kompetisi sepakbola.

"Mungkin kita tidak dapat merubah nasib generasi sekarang, akan tetapi setidaknya kita dapat mencoba menata sebuah pondasi yang kokoh untuk generasi yang akan datang".

Mungkin akan menjadi hal yang sangat berat untuk mengawali perjuangan ini, agar seluruh pemain di negeri ini mendapatkan perlindungan hukum yang selayaknya. Akan tetapi kapan lagi jika tidak sekarang? Mari kita berpikir untuk jauh ke depan, kita melakukan ini semua untuk generasi yang akan datang. Untuk anak cucu kita yang nantinya mungkin memilih sepakbola sebagai profesi dalam kehidupan mereka. Jika sekarang kita mampu meletakkan sebuah pondasi hukum yang kokoh, maka bukan tidak mungkin jika 5, 10, 20 atau 30 tahun lagi posisi para pemain sepakbola di negeri ini akan mendapatkan tempat yang layak dan tidak lagi dapat dipandang dengan sebelah mata.

The task will be hard, there maybe dark days ahead and perhaps can be one of the most fateful moment in our history as a player. But we can only do the right as we see the right, and reverently commit our cause to God. I hope everyone of us can stand calm, firm and united in this time of trial. If we keep resolutely faithful to it, then, with God's help, we shall prevail....

SEKARANG, Saatnya Pemain Bersikap!

Selesai....


sumber: http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/umum/2013/01/09/133/saatnya-pemain-bersikap#.URzil8g-1gA
Read More

"Ini Tanggung Jawab Bersama"

Langit masih nampak gelap gulita ketika saya keluar dari pintu rumah dan menyalakan mobil saya, waktu di jam tangan saya menunjukkan pukul 04:00 WIB. Udara dingin pagi ini cukup mampu memaksa saya untuk membalut tubuh saya dengan sebuah jaket, dan pilihan saya pagi ini jatuh pada jaket berwarna hitam dengan kombinasi warna orange bertuliskan Persija Jakarta di bagian belakangnya.
Sambil menyerahkan sebuah termos kecil berisi kopi panas, Dewi istri saya berkata "Hati-hati ya cin, pelan-pelan saja nyetirnya, kalo sudah sampai jangan lupa kabarin". "Iya sayang, pasti aku kabarin" jawab saya lirih sambil menerima setermos kopi dari tangan istri saya. Beberapa saat kemudian, setelah mesin mobil saya rasa cukup panas dan setelah mencium Dewi istri saya tercinta, maka sayapun bergegas memacu kendaraan saya membelah suasana dingin dan tipisnya kabut pagi ini..
Tujuan saya pagi ini adalah untuk bergabung dengan tim Persija Jakarta yang tengah melakukan pemusatan latihan di hotel Mangkuputra, Cilegon, Banten. Jalanan kota Jakarta pagi ini masih sangat lengang, sangat bertolak belakang dengan saat di siang hari. Selama perjalanan banyak sekali hal berkecamuk dalam benak saya. Hal-hal yg berkaitan dengan pekerjaan saya sebagai pesepakbola silih berganti lalu-lalang di kepala saya ketika ini. Ingin rasanya saya menuliskan hal-hal tersebut di iPad kesayangan saya. Akan tetapi apalah daya, tidak mungkin juga saya melakukan dua buah hal yg sama-sama membutuhkan konsentrasi tinggi secara bersamaan, yaitu menulis dan mengemudikan kendaraan..
Andai saja saya Adam Gibson (Arnold Schwarzenegger) dalam film The 6th Day yang tinggal mengatakan mana tujuan saya dan mobil akan berjalan dengan sendirinya. Atau mungkin Tony stark (Robert Downey Jr) dalam Iron Man yang memiliki asisten super cangging bernama Jarvis, makan saya yakin dalam 1,5 jam kedepan saat saya memasuki kota Cilegon, sebuah artikel utuh sudah berada di dalam iPad saya dan siap disajikan di blog saya bambangpamungkas20.com. Namun pada akhirnya dikarenakan keterbatasan kemampuan tersebut,keinginan untuk menulispun harus saya tahan hinga siang harinya..
Keterpurukan tim nasional Indonesia dalam mengarungi babak kualifikasi piala dunia 2014 menyisakan kegundahan serta kekecewaan yang luar biasa di hati seluruh masyarakat Indonesia. Tanpa mendapatkan satu poinpun dari 5 kali pertandingan jelas sebuah hasil yang menyedihkan atau dapat juga dikatakan sangat memalukan. Terlepas dari kualitas lawan-lawan yang dihadapi memang lebih baik, akan tetapi seharusnya kita mampu berbuat atau menyajikan penampilan yang lebih baik dari apa yng sudah kita pertontonkan selama gelaran kualifikasi ini..
Seperti yang pernah saya sampaikan dalam artikel (Bola Itu Berada Di Tangan Kita - 2009), bahwa - "Harus selalu ada pihak yang bertanggung jawab dalam setiap kegagalan". Begitu pula saat ini, banyak sekali suara-suara di luar sana yang menunjuk pelatih kepala tim nasional Indonesia Wim Rijsbergen sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas hasil buruk tim yang didapat nasional saat ini..
Hal tersebut membuat begitu banyak orang menginginkan pelatih berkebangsaan Belanda tersebut untuk lengser diri dari jabatan pelatih kepala tim nasional Indonesia. Disamping itu, tidak kalah banyak juga masyarakat yang menginginkan kapten tim nasional Bambang Pamungkas dan wakil kapten ti nasional Firman Utina untuk mengundurkan diri dari tim nasional Indonesia..
Pada artikel ini ijinkan saya untuk membahas perihal pelatih tim nasional Wim Rijsbergen terlebih dahulu, sedang perihal tuntutan pengunduran diri kepada Bambang Pamungkas dan Firman Utina nantinya akan saya bahas di bagian akhir dari artikel ini..
Dalam jumpa pers setelah pertandingan Indonesia melawan Iran yg berkesudahan 1:4 untuk kemenangan anak asuhan Carlos Queroz tersebut, saya sempat berbicara cukup keras di depan semua awak media yg hadir ketika itu. Beginilah kurang lebih ucapan saya ketika itu:
"Saya adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menilai segala sesuatunya secara fair. Dahulu ketika Alfred Riedl dipecat, saya adalah pemain yang berteriak paling lantang dalam menyuarakan ketidak sependapatan saya. Ketika itu saya sama sekali tidak menolak kehadiran Wim sebagai pelatih tim nasional, akan tetapi yang saya kritisi adalah keputusan PSSI yang terkesan semena-mena dalam memperlakukan Alfred Riedl. Saya menilai keputusan PSSI untuk melengserkan Riedl ketika itu sarat muatan muatan politis..
Beberapa waktu yang lalu saat kita kalah melawan Bahrain dan Wim terkesan menyalahkan para pemain, saya adalah orang pertama yang bersinggungan langsung dengan beliau. Bahkan dikarenakan hal tersebut, sejujurnya kami sempat tidak berjabat tangan dan tidak saling tegur dalam beberapa waktu. Akan tetapi saat ini, ketika semua orang menyalahkan Wim atas kegagalan tim nasional Indonesia untuk bermain baik selama penyisihan piala dunia 2014, saya jugalah orang pertama yang akan membela pelatih saya tersebut..
Mengapa demikian..?? Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Wim sebagai seorang pelatih, semua pihak juga harus turut bertanggung jawab atas kegagalan ini. Sangat kurang bijaksana rasanya jika hanya pelatih yang dipersalahkan. Semua pemain termasuk saya pribadi sebagai kapten tim nasional Indonesia juga harus mempertanggung jawabkan kinerja kami. Demikian halnya dengan Ketua Umum PSSI Bpk Djohar Arifin yang juga harus berjiwa besar mengakui kegagalannya..
Bagaimana kita dapat menghadapi event sebesar kualifikasi piala dunia dengan baik, jika liga Indonesia sendiri sudah tidak bergulir selama kurang lebih 5 bulan. Pemain tidak memiliki jam terbang kompetitif di tiap minggunya, tidak ada ujicoba international yang cukup memadai, belum lagi kekacauan penyusunan kompetisi yang semrawut yang dampaknya membuat beberapa tim tidak dapat melakukan persiapan dengan maksimal. Hal tersebut membuat banyak pemain tidak dapat menjalankan program latihan dengan baik serta maksimal sebagaimana mestinya..
Sebagai contoh, jika seorang pelatih merasa kurang puas dengan kinerja pemainnya, maka logikanya pelatih tersebut akan memanggil pemain baru untuk menambah daya dobrak atau kekuatan tim. Dalam hal ini Wim tidak dapat melihat pemain-pemain baru karena tidak ada kompetisi yang sedang bergulir. Keterbatasan stok pemain karena tidak adanya kompetisi tersebut, juga merupakan salah satu kendala besar yang mau ngga mau harus dialami oleh Wim dalam meramu kekuatan tim nasional Indonesia saat ini..
Hal tersebutlah yang mendasari pendapat saya jika kegagalan ini bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Wim. Wim memang harus bertanggung jawab sesuai dengan porsinya sebagai pelatih kepala tim nasional, akan tetapi kami seluruh pemain juga harus bertanggung jawab, karena walau bagaimanapun kami adalah pasukan yang berjibaku secara langsung di atas lapangan. Ketua Umum PSSI juga harus bertanggung jawab, mengapa..?? karena jalan atau tidaknya roda kompetisi di Indonesia ini jelas berada di tangan beliau, sebagai pengambil keputusan tertinggi dalam organisasi bernama PSSI"..
Oleh karena itu, sebagai bentuk pertanggungjawaban itu, saya sangat setuju jika nantinya diadakan evaluasi menyeluruh dalam tubuh tim nasional Indonesia saat ini. Apalagi jika kita melihat penampilan tim nasional U-23 yang sangat impresif selama gelaran SEA Games yang lalu. Menurut pendapat saya pribadi, pemain-pemain muda kita sudah cukup layak untuk mulai memikul tanggung jawab membela panji-panji tim nasional senior..
Pemain-pemain seperti Titus Bonai, Patrich Wanggai, Hasim Kipaw, Diego Michiels, Egi Melgiansyah, Okto Maniani, Andik Vermansyah, Abdurrahman dan juga Kurnia Meiga rasanya sudah cukup pantas diberi kesempatan untuk naik ke kelas tim senior..
Terlepas dari kegagalan tim nasional U-23 untuk meraih emas di SEA Games karena dikalahkan Malaysia di final, menurut pendapat saya dengan materi pemain-pemain seperti mereka, rasanya masa depan sepakbola Indonesia terlihat cukuplah cerah..
Sepakbola adalah olahraga tim, oleh karena itu tidak akan pernah terjadi sebuah individu menjadi lebih penting daripada sebuah tim itu sendiri. Kita tidak akan pernah mampu memenangkan pertandingan hanya karena satu atau dua individu yang spesial. Kemenangan sebuah tim akan selalu terjadi dari hasil kinerja semua individu di dalam tim tersebut. Satu, dua individu mungkin saja tampil lebih menonjol dari individu yang lain, akan tetapi itu bukan menjadi sebuah alasan untuk tidak mengapresiasi kinerja individu-individu yang lain..
Begitu pula sebaliknya, kekalahan atau kegagalan sebuah tim tidak seharusnya juga hanya menjadi tanggung jawab beberapa individu saja. Satu, dua individu mungkin saja tampil di bawah performa terbaik mereka, akan tetapi alangkah kurang bijaksananya jika kita hanya melemparkannya semua kesalahan kepada individu-individu tersebut. 
"Bukankah sebuah tim yang baik adalah tim yang terdiri dari individu-individu yang dapat saling mendukung, saling menutupi serta saling membantu antara individu satu dengan individu yang lain"..
Oleh karena itu dalam artikel (Indonesia Masih Bisa - 2010) saya pernah menyampaikan bahwa "Kita menang sama-sama dan sudah seharusnya kita juga kalah bersama-sama". Maka mari kita pertanggungjawabkan kegagalan ini bersama-sama. Pelatih, pemain dan juga Ketua Umum PSSI harus berjiwa besar untuk mempertanggungjawabkan kinerja nya sesuai dengan porsinya masing-masing..
Terlepas dari itu semua bagi saya pribadi, jika pertandingan melawan Iran kemarin pada akhirnya menjadi caps terakhir saya untuk tim nasional Indonesia, maka dengan lapang dada saya dapat menerima keputusan tersebut. Akan tetapi seperti apa yang juga sempat saya kemukakan dalam konferensi pers setelah pertandingan tersebut, bahwasanya:
"Masa depan saya di tim nasional, bukan berada di tangan rekan-rekan wartawan, bukan berada di tangan para suporter di luar sana, bukan di tangan komentator di TV-TV sana, bukan juga di tangan Ketua Umum PSSI Bpk Djohar Arifin. Masa depan saya di tim nasional berada di tangan pelatih tim nasional, siapapun nantinya yang akan menjabat sebagai pelatih tim nasional Indonesia. Ketika pelatih berkata "Bambang terima kasih atas kerja samanya, saya tidak membutuhkan tenaga kamu lagi", maka dengan sendirinya karir saya di tim nasional akan selesai saat itu juga. Sesederhana itu bukan..??
Akan tetapi sebaliknya, jika pelatih tim nasional masih memanggil dan membutuhkan tenaga saya, maka sudah menjadi kewajiban saya untuk memenuhi panggilan tersebut dan tidak alasan bagi saya untuk menolaknya. Ini bukan karena serakah atau tidak tahu diri, akan tetapi hal tersebut lebih kepada apresiasi tinggi dan tanggung jawab moral saya terhadap sebuah profesi yang telah membesarkan nama saya dan membuat saya dapat berada di tempat dimana saya berdiri saat ini"..
Dan saya yakin hal tersebut juga ada di benak sahabat dan yang juga wakil saya sebagai kapten tim nasional Indonesia Firman Utina. Menjadi pemain nasional adalah impian terbesar seluruh pemain sepakbola di belahan dunia manapun, karena hal tersebut merupakan sebuah tanggung jawab, sebuah kehormatan dan juga sebuah pengabdian seorang pemain sepakbola kepada olahraga yang mereka geluti dan juga kepada negara yang mereka cintai..
Sekali lagi kegagalan ini adalah tanggung jawab kita bersama, maka dari itu mari kita hadapi semua ini bersama-sama. Kegagalan demi kegagalan akan selalu meninggalkan rasa pahit yang luar biasa, serta tidak jarang rasa frustasipun timbul disana, akan tetapi itu semua tidak seharusnya membuat kita berhenti untuk berusaha dan berhenti berjuang untuk memperbaiki dunia persepakbolaan negeri yang kita cintai ini.
Karena: "If we stop trying, that means we are no better than a coward”..
Selesai..

Sumber : :http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/timnas/2011/11/27/112/ini-tanggung-jawab-bersama#.URzdw8g-1gA
Read More

Isi Pidato Presiden SBY dalam Peringatan Lahirnya Panc

Assalamu `alaikum Wr. Wb.
Yang sama-sama kami cintai dan muliakan, Ibu Megawati Soekarnoputri Presiden RI kelima. Yang saya hormati Bapak Try Sutrisno, Bapak Hamzah Haz, Bapak Muhammad Jusuf Kalla Wakil Presiden yang mengemban tugas pada masa bhakti beliau masing-masing.
Saudara Wakil Presiden RI.
Saudara Ketua MPR RI dan para pimpinan lembaga-lembaga negara. Serta segenap anggota MPR RI. Para menteri kabinet Indonesia Bersatu. Para pimpinan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan. Yang sama-sama kita muliakan para sesepuh dan tokoh nasional. Hadirin sekalian yang saya hormati.
Dengan terlebih dahulu memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan YME, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Ketua MPR RI Taufiq Kiemas yang memiliki memprakarsai untuk bersama-sama memperingati pidato bersejarah Bung Karno yang disampaikan pada tanggal 1 Juni 1945.
Bicara tentang Pancasila tentu kita bicara tentang pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, oleh karena itu mari kita jadikan peringatan ini untuk memahami pemikiran-pemikiran besar Bung Karno untuk mengetahui jejak dan proses sejarah dijadikannya Pancasila sebagai dasar negara.
Dan kemudian tidak kalah pentingnya, bagaimana kita mengaktualisasikan dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan bangsa dan negara di masa kini dan masa depan.
Saya ingin merespons terlebih dahulu apa yang disampaikan pimpinan MPR, Pak Taufiq Kiemas, tadi.
Saya setuju dan menggarisbawahi bahwa rangkaian hubungan sejarah mulai 1 Juni 1945 hingga teks final Pancasila yang di-”undang-undang dasar”-kan menjadi konstitusi pada 18 Agustus 1945 adalah satu kesatuan dalam proses kelahiran falsafah Pancasila.
Saya juga setuju terhadap yang disampaikan pimpinan MPR tadi bahwa Pancasila dan UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika adalah empat pilar utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ini penting saya garisbawahi empat-empatnya harus menjadi bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara sepanjang masa.
Empat tahun lalu pada tanggal 1 Juni 2006 kita juga memperingati sesungguhnya pidato Bung Karno 1 Juni 1945, sebagian besar yang ada di ruangan ini juga turut hadir dalam acara penting itu. Kita mengangkat pemikiran-pemikiran besar Bung Karno dengan tujuan untuk mendapatkan aktualisasi dalam merespon perkembangan jaman.
Pada saat ini juga pidato saya akan mengedepankan sejumlah pemikiran besar Bung Karno yang saya anggap relevan untuk menghadapi keadaan baik yang dihadapi oleh bangsa kita dan dihadapi oleh dunia.
Secara khusus waktu itu saya mengangkat pemikiran Bung Karno misalnya hubungan antara nasionalisme dan internasionalisme atau kemanusiaan, hubungan demokrasi dan kesejahteraan dan keadilan sosial, termasuk bagaimana bangsa kita dalam mengedepankan kehidupan beragama sepatutnya dijalankan dan sejumlah pikiran besar beliau lainnya yang saya sampaikan pada 2006 lalu.
Di sisi lain pada saat itu kalau kita ingin mengaitkan Pancasila dengan transformasi dan reformasi sedang kita jalankan ini maka marilah kita mengaitkan reformasi sejatinya adalah “continuity” dan “change”.
Hal-hal yang masih relevan apalagi berharga dari pendahulu utamanya disampaikan oleh pimpinan MPR tadi harus sudah dipastikan tetap ada.
Hal-hal baru bisa untuk membuat kehidupan bernegara menjadi lebih baik tanpa menggoyahkan dan meninggalkan apa yang saya sebut nilai-nilai dasar, konsensus dasar, dan di sini tentu salah satu pilar.
Pentingnya nilai dasar telah kita sepakati sejak Indonesia merdeka, tidak sepatutnya kita perdebatkan kembali Pancasila sebagai dasar negara ini. Ini penting karena Ketetapan MPR pada 1998 melalui TAP MPR No 18 Tahun 1998 maka Pancasila telah ditetapkan sebagai dasar negara. Saya kira mari patrikan dan hentikan perdebatan tentang Pancasila sebagai sadar negara karena itu kontraproduktif dan juga ahistoris.
Saya tidak akan mengulangi apa yang telah kita bahas pada peringatan 1 Juni 2006 karena saya memandang tetap relevan dengan perkembangan dan tantangan yang kita hadapi dewasa ini.
Dalam pidato ini ingin saya sampaikan, ingin mengangkat dua substansi utama. Pertama, saya ingin mengangkat kembali sejumlah pikiran penting Bung Karno yang disampaikan pada 1 Juni 1945 termasuk apa relevansinya terhadap perkembangan jaman sekarang ini dan lantas aktualisasinya seperti apa agar lebih ke depan kehidupan berbangsa dan bernegara semakin kuat dan kokoh.
Ketika saya menyampaikan butir-butir pemikiran cemerlang Bung Karno ini saya ingin meletakkan diri sebagai salah satu anak bangsa, seseorang yang sejak muda telah melihat pemikiran cemerlang Bung Karno.
Saya kira generasi seumur kita ini waktu mengikuti pendidikan SMP dan SMA mulai membaca pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Sedangkan substansi kedua berangkat dari apa itu dan bagaimana apa yang mesti kita lakukan untuk memastikan kehidupan bangsa dan negara mengarah pada arah yang benar sesuai dengan empat pilar kehidupan berbangsa sesuai dengan jati diri dalam menghadapi tantangan globalisasi.
Tentu saja meski kita punya empat pilar, sangat penting bangsa kita harus tetap adaptif, tetap punya visi menjangkau ke depan agar pada abad ke-21 Indonesia benar menjadi negara bermartabat dan sejahtera.
Izinkan saya untuk mengulangi bagian pertama daro peringatan ini yang ingin mengedepankan tujuh pemikiran penting Bung Karno.
Yang pertama, sebelum menyampaikan kandungan dari pidato bersejarah, Bung Karno mengingatkan sidang BPUPKI waktu itu bahwa yang hendak dicari, ditemukan, dan disepakati adalah dasar Indonesia merdeka. Saya membaca berulang-ulang mengapa Bung Karno dalam mukadimah mengungkapkan seperti itu.
Nampaknya penyebabnya tiga hari itu sudah terkesan melebar, berlarut-larut, dan mungkin lepas dari konteks, oleh karena itu Bung Karno justru ingin mengajak sidang waktu itu untuk fokus bahwa apa yang dirumuskan bersama adalah dasar atau falsafah Indoensa merdeka, bahkan diberikan contoh Hitler Jerman mengambil nasionalisme sebagai dasar, Lenin mengambil marxisme materialisme dialektika historis.
Bung Karno membandingkan negara-negara lain yang memilih dasar kehidupan bernegara itu menurut telaah saya untuk memudahkan sidang untuk memahami apa yang sedang dicari untuk menjadi benar-benar dasar dan falsafah Indonesia merdeka.
Bahkan sekarang pun kejelasan seperti itu masih sangat penting karena di antara rakyat kita masih bertanya apa atau dalam makna dan pengertian seperti apa Pancasila jadi dasar negara kita, menjadi asas negara kita, dan saya ingatkan dasar negara itu bukanlah visi, “grand strategy”, bukan juga haluan, meski sebuah negara memerlukan visi, “grand strategy”, dan haluan, tetapi di atas segalanya adalah fondasi atau dasar ini.
Kekuatan pidato 1 Juni 1945 justru dimulai dari apa yang hendak dirumuskan yang menjadi dasar Indonesia merdeka.
Kedua, mari kita melanjutkan untuk memahami pemikiran esensial Bung Karno yang kemudian dalam prosesnya menjadi jiwa dan nafas Pancasila sebagaimana yang akhirnya dirumuskan dalam teks 18 Agustus 1945.
Dasar negara yang ditawarkan Bung Karno dalam pidato ini ada lima, pertama kebangsaan atau nasionalisme, kedua kemanusiaan atau internasionalisme, ketiga musyawarah mufakat atau demokrasi, keempat kesejahteraan sosial, dan paling penting adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Lima butir itulah yang mengedepan secara eksplisit pada pidato 1 Juni 1945. Kalau kita renungkan sangat gamblang sekali Bung Karno bicara nasionalisme atau kebangsaan dan internasionalisme atau kemanusiaan, bicara mufakat atau demokrasi yang menjadi favorit masyarakat global sekarang ini, bicara kesejahteraan sosial yang menjadi “never ending goal” dari setiap pembangunan dan di atas segalanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.
Setelah melalui proses perdebatan seru dan menyejarah kita paham betul dinamika perdebatan para “founding fathers” antara Bung Karno, Bung Hatta, M Yamin, Soepomo, banyak sekali tokoh-tokoh urun rembuk untuk mencari seperti apa dasar negara itu yang akhirnya “consensus building” telah tercapai dan pancasila yang disampaikan pada1 juni yang jadinya dipilih jadi dasar negara.
Oleh Karena itu masih dalam konteks pidato 1 juni apa hubungan pancasila dengan Bung Karno menurut beliau sendiri bahkan ketika sudah menjadi presiden kita ikuti pidato-pidatonya beliau mengatakan saya menggali pancasila dari buminya Indonesia.
Jadi, beliau adalah penggali pancasila dan Bung Karno saya kutip dari kata-kata beliau telah memikirkan dasar dan falsafah ideologi Indonesia merdeka itu selama 27 tahun sejak tahun 1918 usia 17 tahun sampai 1945 ketika pidato 1 Juni disampaikan.
Soekarno muda sudah memikirkan tentang dasar bangsa Indonesia merdeka. Bung Karno lah yang pertama menggunakan istilah Pancasila pada pidato 1 Juni 1945 dan kalau kita meletakkan sendiri dalam proses itu, sejak 1 Juni, 22 Juni, 18 Agustus 1945, Bung Karno memiliki peran sentral dalam merumuskan pancasila itu.
Saya ingin mengedepankan sejarah itu, sejarah adalah sejarah, oleh karena itu harus kita pahami.
Ketiga, marilah kita bicara sekarang pemikiran besar beliau tentang nasionalisme atau kebangsaan Indonesia, mana yang paling relevan untuk masa kini dan masa depan. Bung Karno mengatakan nasionalisme yang dimaksud bukan kebangsaan menyendiri. Kata-kata beliau mengenai persatuan dunia, persaudaraan dunia, sehingga tidak perlu dipertentangkan dengan kemanusiaan atau internasionalisme.
Nasionalisme bergandengan erat dengan internasionalisme atau kemanusiaan. Aplikasinya marilah tidak menjadikan nasionalisme sebagai “narrow nasionalisme” dan jangan kita memusuhi bangsa-bangsa lain di dunia atau yang serba asing dalam globalisasi pun kita harus percaya diri.
Tidak perlu harus gamang dan melihat sebagai ancaman sesungguhnya karena sejak lahirnya pancasila sudah disatukan antara nasionalisme dan internasionalisme.
Keempat, yang hendak kita dirikan menurut Bung Karno sebuah negara kebangsaan, negara nasional. Beliau katakan mengikuti Ernest Renan, seorang Prancis, apa yang disebut bangsa apa syaratnya.
Kedua-duanya disebutkan di situ, tidak cukup hanya ada manusia, wilayah, dan pemerintah, tetapi kehendak akan bersatu. Dalam alam dewasa ini di era desentralisasi dan otonomi daerah, sekarang ini kita melihat banyak positif dengan desentralisasi dan otonomi daerah sebagai koreksi pemerintahan sentralistik pada masa lalu.
Kita lihat juga ada ekses, ada hal-hal yang harus kita cegah untuk tidak membesar, yang menjauh dari kehendak sebuah bangsa yang bersatu, yaitu kebangsaan nasionalisme Indonesia. Muncul primordialisme, agamasentris, kedaerahan, ataupun ikatan identitas serba sempit. Dalam konteks ini pemimpin dan tokoh seluruh Indonesia harus menjadi contoh, pelopor, jangan justru ikut-ikutan mengembangkan ikatan-ikatan sempit.
Dalam Pilkada masih ada nuansa yang jauh dari semangat kebangsaan, berpihak, masih ada perkelahian antar suku dan agama di berbagai tempat Mari kembali ke semangat kebangsaan Indonesia, kehendak bersatu. Desentralisasi dan otonomi daerah diambil manfaatnya, tujuan utamanya, seraya mencegah ekses dan penyimpangan yang bisa terjadi.
Kelima, Bung Karno menolak kosmopolitanisme, sebuah paham yang tidak mengakui adanya bangsa. Dalam era sekarang ini saya mengingatkan bahwa meski kita hidup dalam perkampungan dunia tapi kita harus punya rumah. Rumah itu adalah Indonesia, kebangsaan kita di tengah bangsa-bangsa di dunia.
Kita menganut nilai-nilai universal, interaksi satu sama lain, toh kita tetap membutuhkan jati diri, siapa kita, Indonesia.
Oleh karena itu, berkaitan dengan momentum penting ini saya ingin mengingatkan, mengajak, meski dunia sekarang ini ada ikatan solidaritas bersifat global, ikatan atau komunitas Islam, sedunia, ikatan atau komunitas kristen dan katolik sedunia.
Tetaplah yang pertama-tama dan yang utama adalah ikatan kebangsaan kita dan kita harus menolak yang disebut “no state borderless world”. Meski dunia seolah-olah sudah “borderless” tetapi ada bangsa, rumah, jati diri, jangan lebih setia pada ikatan di luar ikatan bangsa kita.
Keenam, Bung Karno menyebut dalam pidato beliau dan juga dalam satu nafas kata-kata mufakat, permusyawaratan, dan perwakilan, dan yang ingin digarisbawahi di situ dalam demokrasi kita yang disebut “fair play”.
Kata-kata itu ada dalam pidato1 Juni 1945. Kalau ingin kepentingan kita digarisbwahi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus berjuang secara demokratis. Aktualisasinya adalah mari kita terus jaga semangat konstitusi kita, mari terus jalankan sistem politik demokrasi, mari terus selenggarakan pemilu kredibel.
Dibanding prinsip “one man one vote”, ada kalanya “consensus building” sebagai musyawarah mufakat sebagai bagian dari demokrasi. Ada pandangan semua harus divoting, tidak harus begitu.
Ada kalanya musyawarah itu menyediakan solusi asalkan ikhlas dan tidak ada paksaan atau tekanan. Ini adalah aktualisasi harus dipikirkan.
Ketujuh, konsep negara gotong royong yang ditawarkan Bung Karno esensinya adalah semua buat semua, bekerja keras bersama saling membantu satu sama lain.
Itu ada kata-kata seperti itu. Kalau kita aktualisasikan saya ingin mengangkat kembali pidato saya ketika memperingati seratus tahun kebangkitan nasional.
Di abad ke21 ini Insya Allah Indonesia bisa menjadi negara maju dengan syarat kita bisa meningkatkan kemandirian, daya saing, dan peradaban unggul, dan itu bisa dicapai kalau negara mengutamakan kebersamaan, persatuan, dan kerja keras. Maka tiada lain konsep gotong royong disampaikan Bung Karno adalah semua buat semua, bekerja keras bersama, saling bantu sama lain.
Itulah tujuh pikiran penting Bung Karno yang ada dalam pidato 1 juni 1945 kalau itu kita bedah, telaah, kupas. Masih banyak lagi tentunya pikiran-pikiran lain yang masih ada forum lain untuk membahasnya.
Sekarang bagaimana kita menggunakan Pancasila sebagai rujukan dalam menjawab tantangan bangsa di tengah dunia yang terus berubah.
Saya ingin dalam kesempatan ini menyampaikan kerisauan kita karena ada sejumlah pandangan yang tentunya harus diubah, di antara kita ada yang gamang melihat perubahan besar baik di tingkat nasional atau global. Ada yang melihat globalisasi dari kacamata ancaman semata. Di sini ingin saya tambahkan bahwa Pancasila pun oleh kita sering diletakkan sebagai pedoman untuk menangkal ancaman itu, itu benar, tetapi tidak hanya itu.
Sebagai suatu kekuatan dalam arti luas sesungguhnya Pancasila bisa kita jadikan sesuatu untuk menciptakan peluang untuk menjawab berbagai soal global, jadi sesuatu yang defensif kita ubah menjadi sesuatu lebih aktif dan proaktif.
Untuk melengkapi penjelasan ini saya ingin mengajak saudara-saudara memahami perkembangan global yang terjadi 25 tahun terakhir ini dengan realitas-realitas penting geopolitik dan pergeseran ideologi besar oleh masyarakat dunia.
Isu besar dan mendasar sekarangg ini adalah berkaitan dengan tatanan ekonomi dunia. Prosesnya kalau kita kilas balik sejak runtuhnya perang dingin adalah setelah perang dingin berakhir bangunan ekonomi yang bertumpu pd marxisme komunisme dianggap gagal menyejahterakan rakyat. Simak sekarang perubahan pilihan ekonomi di RRC, Rusia, Vietnam, dan Eropa timur.
Tiongkok mengatakan ekonomi pasar sosial, tapi sudah mulai memasuki wilayah ekonomi pasar. Seolah dalam kaitan ini yang benar adalah ekonomi kapitalisme.
Itu penggalan pertama setelah berakhirnya perang dingin, tiba-tiba dunia dicengangkan ketika pada 2008-2009 lalu dunia kembali diguncang oleh krisis ekonomi, resesi besar.
Tadinya yang disalahkan hanya marxisme komunisme, kini dunia memandang bahwa kapitalisme apalagi yang fundamental dianggap tidak aman, adil, dan gagal mendatangkan kemakmuran bangsa karenanya hukum dan otoritas pasar digugat dan dilakukan koreksi besar-besaran.
Indonesia juga mengambil bagian aktif dalam membangun “new economist order” ini baik dalam forum G20, APEC, dan lain-lain.
Dengan cerita ini, apa yang terpikir? Apa kaitan dengan pancasila?
Kita bisa mengambil satu kesimpulan bahwa “justice” yaitu menjadi elemen utama dari pancasila, keadilan sosial atau istilah Bung Karno kesejahteraan sosial dalam sistem kapitalisme sering diabaikan prinsip semua untuk semua atau prosperity for all.
Dalam ekonomi dunia gagal diwujudkan kesetaraan antarta negara maju dan terbelakang.
Antara negara-negara kaya dan miskin menganga jurang kesenjangan. Berarti kapitalisme gagal untuk menghadirkan kesejahteraan untuk semua dalam masyarakat global. Campur tangan pemerintah sekalipun untuk urusan “justice” dalam hukum ekonomi pasar juga sering ditabukan meski Indonesia tentu tidak memilih itu. Terjawablah bahwa Pancasila sesungguhnya relevan.
Belajar dari pergeseran ideologi dunia, gagalnya kapitalisme dan komunisme, masih berkaitan dengan perkembangan dunia, sekarang ini saya ingin menambahkan satu lagi.
Ini fenomena global yang fundamental, ada pergeseran, persesuaian, dan “adjustment” dari negara-negara di dunia dalam menganut ideologi-ideologi besar.
Sekarang ini hampir tidak ada satupun negara di dunia yang secara ekstrem menggunakan satu ideologi ekonomi dunia. Dalam khasanah ideologi dunia, misalnya neoliberalieme, komunisme, sosialisme, sudah banyak varian dari itu semua, varian dari kapitalisme, sosialisme.
Eropa ada yang menganut ekonomi kesejahteraan negara, dulunya kapitalis seperti ajaran Adam Smith dan lain-lain sudah bergeser mengadopsi nilai-nilai sosialisme. Negara dulu benar-benar marxisme telah memahami esensi pasar.
Tapi dalam bingkai keadilan sosial oleh karena itu terhadap semua itu Indonesia sepatutnya tak perlu silau karena kembali kepada apa yang ada di pancasila, ada resep, prinsip dasar dan falsafah ekonomi kita. Kita memilih kesejahteraan berkeadilan sosial.
Sebagai substansi, sebagai penutup, marilah kita terus menjadikan Pancasila sebagai “living ideology” dan “working ideology” yang adaptif, responsif.
Pancasila tentu tidak patut kita perlakukan sebagai dogma kaku, apalagi dikeramatkan karena justru menghalang-halangi Pancasila untuk merespon tantangan jaman baik pada tingkat nasional maupun dunia. Dan itulah nilai terbesar dari Pancasila ketika kita aktualisasikan untuk menghadapi tantangan jaman masa kini dan masa mendatang.
Wassalamualaikum Wr Wb.


sumber: http://www.kampungtki.com/baca/14018
Read More