Showing posts with label Peikanan. Show all posts
Showing posts with label Peikanan. Show all posts

Alligator gar fish

Alligator gar fish hunting

Alligator gar fish are sold as food fish, but it is not a very popular food fish and lot of sport fishers never eats their catch. The main purpose of Alligator gar fishing is instead the thrill of the hunt since this fish species is large as well as feisty.
If you want to catch Alligator gar fish during your fishing trip, you should ideally fish near driftwood in slow moving waters since such environments are known to attract the Alligator gar fish.
The like to stay hidden under driftwood and among aquatic plants to ambush prey that comes too close. Alligator gar fish feed on fish, waterfowl, crustaceans, turtles and have even been spotted killing Alligators.  
Whole mullet is often used as Alligator gar fish bate among sport fishers. Alligator gar fishes are not line shy and attracting an Alligator gar fish is usually not hard. The difficult part it to handle this large and powerful fish. Ideally follow the bobber until it halts, since the Alligator gar fish must swallow the line before the hook is set. Do not set the hook until the Alligator gar has begun to move again.
Since the Alligator gar fish is so big and powerful it is usually not a good idea to place it in your boat until you know that it is dead. An Alligator gar fish struggling for its life can deliver really painful bites with its small but razor sharp teeth. It should be noted that Alligator gar fish pose no real threat to swimming humans, not even children. Humans are not considered Alligator gar fish prey.

Alligator gar fish regulation

Since it eats virtually any type of prey, the Alligator gar fish is sometimes called “trash fish”. A lot of fishermen dislike the Alligator gar fish since it prey upon other game fish. Earlier, it was common for fishermen to snare Alligator gar fish, kill it and throw it back into the water to keep the population down. Today, the Alligator gar fish is considered threatened in several regions and Alligator gar fishing is more strictly regulated. Always check current legislation in your state before you engage in Alligator gar fishing.   

Alligator gar fish adaptations

The Alligator gar fish can breathe while submerged as well as obtain oxygen directly from the air. This is an adaptation to muddy and oxygen depleted slow water environments. The buoyancy bladder of the Alligator gar fish is connected directly to the throat of the fish and makes it easy for the Alligator gar fish to loiter just below the waters’ surface. This habit makes them quite an easy catch for bow hunters.  
The name Alligator gar fish is derived from the snout of this fish with its two rows of really big teeth in the upper jaw which gives the species a somewhat Alligator like appearance. The teeth are small, but extremely sharp and specialised for shredding prey. A third adaptation is the joint located behind the head of the Alligator gar fish. This joint makes it possible for the Alligator gar fish to make nodding head movements.

Source : http://www.aquaticcommunity.com/predatory/Alligator-gar-fish.php
Read More

Ikan Toman (Channa micropeltes)

Ikan Toman (Channa micropeltes
    Channa micropeltes termasuk famili Channidae, klas Actinopterygii, merupakan spesies yang dapat mencapai ukuran terbesar pada famili ini. Dikenal juga dengan nama ikan toman (Sumatera, Malaysia), gabus tobang (Kalimantan), Giant snakehead atau Red snakehead.
Ikan toman yang masih berukuran benih berwarna merah dengan garis-garis jingga dan hitam pada pada sisi kiri kanannya, yang muncul pada umur sekitar 2 bulan. Sedangkan pada toman dewasa, garis-garis tersebut hilang dan muncul pola yang berwarna hitam dan putih pada tubuh bagian atas.
Ikan ini dapat ditemukan di danau, sungai, saluran-saluran air dan waduk. Toman dapat mencapai ukuran panjang lebih dari 1 meter dengan berat lebih dari 20 kg. Tersebar di perairan umum subtropis dan tropis di Asia Tenggara dan India.
    Kebiasaan makannya adalah karnivora, ikan ini merupakan predator yang dapat memangsa berbagai jenis ikan, amfibi, juga burung-burung kecil. Seperti gabus-gabusan lainnya, pada saat akan mulai memijah, ikan ini akan membersihkan vegetasi dimana akan dijadikan tempat memijah. Setelah memijah, telur-telurnya mengambang di permukaan air dan akan dijaga oleh induknya. Penjagaan tersebut dilakukan terus setelah menetas hingga anakannya dapat berenang. Di Sumatera Selatan, ikan ini umumnya dikonsumsi segar dengan cara digoreng atau dimasak sup ’pindang’. Untuk ikan yang berukuran kecil kurang dari 0,5 kg dapat diolah menjadi ikan asin.
BADAN RISET KELAUTAN DAN PERIKANAN
BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM
Jl. Beringin 308 Mariana – Palembang 30763
Telp. (0711) 537194 Fax. (0711) 537205
Email : brppu_palembang@yahoo.com
Penyunting: Dina Muthmainnah, M.Si.
Nurwanti, S.Ikom.
 
Read More

Ikan Pari Air Tawar | Pari Air Tawar

dakah Pari Air Tawar ?

Selama ini kita mengenal Ikan Pari yang hidup di Laut, ternyata beberapa waktu yang lalu, saya telah melihat langsung se ekor Pari yang sangat Cantik yang di jual di Toko Ikan Hias dan di pelihara di Aquarium Air Tawar.

Hal tersebut langsung membangkitkan keingintahuan saya mengenai Ikan Pari Air Tawar, setelah mencari tahu, akhirnya saya menemukan, ternyata Pari Air Tawar ini memang Benar Adanya.

Pari Air Tawar atau dalam bahasa Inggris di Sebut Freshwater Stingray dalam beberapa tahun ini mulai populer di pelihara sebagai Ikan Hias, di karenakan bentuknya yang unik dan cara berenangnya yang seperti terbang mengepakkan sayapnya di dalam air

Umumnya beberapa sungai besar di seluruh dunia terdapat species Pari Air Tawar, namun species yang paling banyak di temukan di sepanjang sungai Amazon dan beberapa negara di Amerika Selatan, mulai dari Peru, Kolumbia sampai ke Brazil

Species-species Pari Air Tawar, antara lain Potamotrygon Motoro, Potamotrygon Leopoldi, Potamotrygon Estrella dan lain-lain. Dengar-dengar sih yang leopoldi itu yg paling mahal, soalnya warnanya juga yang paling unik, totol putih di warna tubuhnya yang hitam.

Seperti kerabatnya yang di Laut, Pari Air Tawar juga mempunyai sengat/bisa/patil yang terdapat pada bagian bawah ekornya, sengat tersebut cukup berbahaya bila tersengat, apalagi kalau diameter Pari nya cukup besar, mungkin bisa mengakibatkan kematian, cuma ya yangg di pelihara di aquarium kan biasa kecil, berapa sih ukuran aquarium paling gede, kan gak mungkin pelihara Pari Air Tawar diameter 1 meteran di Aquarium

Bila ingin memelihara Pari Air Tawar, kondisi air haruslah di perhatikan, pari air tawar menginginkan air Tua (air yang diendapkan lama) yg jernih, dengan Amoniak yg rendah dan Ph Air sekitar 6,5

Untuk membedakan antara Pari Air Tawar Betina atau Jantan, sebenarnya cukuplah mudah, perbedaan fisik akan terlihat jelas di pangkal ekornya, Pari Air Tawar jantan memiliki penjepit di kedua sisi pangkal ekornya, sementara yang betina tidak

berikut beberapa gambar Pari Air Tawar, cakep kan ?

Pari Air Tawar, yg totol putih hitam itu species Potamotrygon Leopoldi

Pari Air Tawar, yg tengah, yg paling gede, Potamotrygon Estrella

Pari Air Tawar - Potamotrygon Motoro

sumber gambar dan inspirasi :  www.freshwaterstingray.com
Read More

Usaha budidaya Ikan Wader

BUDIDAYA IKAN WADER
ISWAHYUDI, S.Pi DAN JILA SULIASTINI, S.Pi



LATAR BELAKANG
Pemenuhan konsumsi Ikan wader selama ini masih berasal dari tangkapan alam liar terutama pada musim hujan. Cara penangkapannya-pun dengan berbagai macam cara : jaring perangkap, pancing bahkan dengan menggunakan alat setrum dan potasium dan apabila penangkapan ini secara terus menerus dilakukan maka dapat mengancam kelestariannya serta mengganggu ekosistem perairan.
Informasi potensi dan peluang usahanya juga masih sangat sedikit, sebagai contoh peluang usaha ikan wader (sumber www.bisniskeuangankompas.com) : Supriyadi ,dari bisnis wader mendapat omset 90 jt/bln . Harga wader goreng 200 gram dalam wadahplatik Rp 15000,-, Budiharjo Uns Surakarta (2002), harga ikan wader per kilogramnya lebih tinggi dari beberapa jenis ikan konsumsi.
Permintaan pasar akan ikan wader cukup tinggi,sangat potensi untuk dibudidayakan, namun informasi tentang budidaya Ikan wader selama ini belum ada, oleh sebab itu maka kami UPT Pengembangan Budidaya air Tawar Umbulan perlu melakukan kajian dan penelitian mengenai breeding program ikan wader.

DOMESTIKASI
Dalam upaya untuk menjaga kelestarian ikan wader, UPT PBAT Umbulan melakukan usaha domestikasi ikan wader yang ada disekitar lokasi UPT PBAT Umbulan. Upaya yang dilakukan antara lain :
1. Karakterisasi
Asal-usul serta latar belakang dari induk-induk koleksi harus diketahui untuk dapat mengetahui keadaan stock yang ada dan untuk menentukan metode pemijahan yang akan dilaksanakan dengan tepat. Selain itu, data ini juga bermanfaat untuk pergantian atau penambahan koleksi yang harus dilaksanakan secara berkala untuk memelihara variabilitas dari koleksi yang sudah ada, dan untuk mencegah adanya ‘ genetic distrubance’ atau ‘ introgression’ dari stock yang ada.
Karakterisasi dilakukan pada ikan wader yang dikoleksi di sekitar lokasi UPT PBAT Umbulan. Ada dua jenis ikan wader lokal yang diuji pijahkan yaitu wader pari dan wader cakul. Jenis dan klasifikasi ikan wader adalah sebagai berikut :
a. Wader Pari

Kingdom : Animali
Filum : Chordata
Kelas : Actinopter
Suku : Cyprinidae
Genus : Rasbora
Spesies : Rasbora argyrotaenia
Nama lokal : Wader pari ( jawa ), seluang ( sumatra ), beunteur
b. Wader Cakul

Kingdom : Animali
Filum : Chordata
Kelas : Actinopter
Suku : Cyprinidae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius binotatus
Nama lokal : Wader cakul (jawa),sepadak(bengkulu),

2. Koleksi Induk
Pengkoleksian ikan merupakan langkah awal yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan bahan dasar suatu Breeding Program. Hal ini penting yang berhubungan dengan masalah pengkoleksian ini adalah jumlah ikan sebagai populasi awal dalam kegiatan ( Base population ).
Koleksi induk ikan wader yang diuji pijahkan di UPT Pengembangan Budidaya Air Tawar Umbulan – Pasuruan dimulai Bulan Januari – Februari 2011. Diperoleh 2 jenis induk dengen jumlah koleksi sebagai berikut :
1. Wader pari : 150 ekor
2. Wader cakul : 200 ekor

MORFOLOGI
 Cirinya wader pari :
1. tubuhnya lebih ramping dan panjang
2. tubuhnya terdapat garis horisontal warna biru
3. warna tubuh putih keperakan
 Ciri ikan wader cakul :
1.tubuh montok atau gemuk
2. terdapat bintik dua dibagian pangkal sirip punggung
3. warna tubuh abu-abu kehijauan

CIRI ALAT KELAMIN
No Jantan Betina
1. Postur tubuhnya ramping Postur tubuhnya lebih besar pada bagian perut
2. Terdapat 2 lubang kelamin Terdapat 3 lubang kelamin
3. distriping keluar sperma Jika distriping keluar telur

PERSIAPAN PEMIJAHAN
1.Persiapan kolam
Kolam sebelum dipergunakan harus dikeringkan terlebih dahulu, ini bertujuan untuk membunuh bakteri yang ada dan dapat menimbulan rangsangan bau saat pemijahan berlangsung ( feromon )
2.Pengelolaan induk :
Induk hasil tangkapan alam dipelihara dalam sebuah kolam dan diberi pakan berupa ampas tahu + pellet untuk pematangan gonad. Dilakukan seleksi induk yang matang gonad untuk dilakukan pemijahan.
3.Proses pemijahan :
Berlangsung 2 hari setelah pemasukan induk pada kolam pemijahan.
Telur menetas selama 24 jam.
Gambar larva wader :
GAmbar benih wader hasil budidaya :
Pakan larva berupa kuning telur ayam yang direbus.

Keterangan Ukuran Berat
Induk 11.5 cm 18.7 gram
Larva 0.2 cm
Benih 1 – 3 cm 0.09 gram
3 – 5 cm 1.2 gram


Sumber : http://uptpbatumbulan.blogspot.com/2012/08/usaha-budiaya-ikan-wader.html
Read More

Memelihara Redtail Catfish dalam aquarium




Redtail Catfish dapat mencapai panjangan 120cm. Dalam tahun pertamanya, ia dapat mencapai panjang 60cm. Untuk memeliharanya di dalam aquarium, anda harus menyediakan ruang yang cukup besar. Anda membutuhkan aquarium 360cm x 240cm x 120cm. Dan harap anda catat, bahwa ukuran aquarium ini adalah hanya untuk pemeliharaan 1 ekor Redtail Catfish. Aquarium yang lebih besar, harus anda persiapkan jika anda ingin memelihara dua atau lebih Redtail Catfish.

Adalah lebih baik jika anda telah mempersiapkan aquarium yang besar sejak awal, dibandingkan dengan jika anda menyediakan aquarium seadaanya, hingga barulah anda memindahkannya ke aquarium yang lebih pantas saat Redtail Catfish tumbuh besar. Pasalnya ikan ini memeiliki pertumbuhan yang cepat. Ikan akan mengalami kondisi stres, sakit bahkan mati (walaupun kasus seperti ini jarang terjadi).

Sistem filtrasi (baik biologis maupun fisikal) juga diperlukan, sebab akan ada banyak terdapat varian bakteri yang hidup di dalam aquarium. Filtrasi menjadi amat penting seiring dengan pertumbuhan ikan yang kian besar dan memiliki nafsu makan yang besar. Yang dengannya, kotoran dari sisa proses sekresi akan berlimpah di dalam aquarium. Kandungan amonia, dan nitrit akan menjadi tinggi. Hal ini akan berakibat langsung pada perubahan pH air. Sebab kita harus menjaga agar kadar kandungan amonia dan nitrit dalam air aquarium mendekati 0% dan pH 6.0 dan 7.5.

Proses pergantian air juga perlu dilakukan secara berkala. Setidaknya dilakukan 3 kali dalam 1 pekan. Gantilah 15% air dengan air baru yang segar. Apabila anda menggunakan air keran, sebaiknya air diendapkan dahulu selama 1 malam. Agar kandungan kaporit mengendap di dasar tandon air. Ambil air yang ada di bagian atas sebagai air pengganti. Ada kasus dimana air keran diperkotaan mengandung Klorin dan Kloramin. Kedua zat ini berbahaya untuk ikan anda. Untuk menetralkannya, gunakan reagent.

Untuk ukuran Redtail Catfish yang masih kecil, anda dapat menyediakan tempat persembunyian di dalam akuarium. sebaiknya gunakan kayu santigi, sebagai rumah dan tempat persembunyian Redtail Catfish. Selain indah,aman ia juga akan tenggelam di dasar aquarium. Saat ukuran ikan lebih besar, aksesoris di dalam aquarium harus dikurangi (dihilangkan), maksudnya agar ikan mendapat ruang yang lebih luas untuk bergerak. Selain itu, ikan yang bertubuh besar mampu memindahkan/mendorong aksesoris yang berada di aquarium, tentu saja hal ini tidak anda inginkan, bukan? Mulut Redtail Catfish terkenal sangat lebar. Ia mampu menelan ikan yang berukuran sepertiga ukuran tubuhnya. Melihat kondisi ini, sebaiknya anda menghindari aksesoris kecil di dalam aquarium, sebab Redtail Catfish dapat dengan mudah menelannya. hal ini berbahaya untuk ikan, bahkan dapat menyebabkan kematian. Jika anda ingin menggunakan aksesoris untuk dasar aquarium, maka gunakanlah pasir atau kerikil kecil (halus). Keduanya aman untuk ikan ini. Jenis kerikil yang lainnya akan ditelan dan mudah menyangkut di insang ikan ini.

Hal lain yang harus dihindari adalah meletakkan benda berbahan dasar kaca di dalam aquarium, seperti heater dan termometer. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, Redtail Catfish akan dengan mudahnya memporak porandakan benda-benda itu. Jika pecahan kaca sampai mengenai tubuh ikan, atau malah tertelan, hal ini akan berakibat fatal. Kematian tidak dapat dihindarkan.

Filter yang ideal untuk digunakan adalah sump filter. Untuk menghindari selang yang putus dikoyak mulut ikan. Untuk dinding, gunakan kaca atau akrilik, yang memiliki ketebalan setidaknya setengah inci, sebab ketebalan dinding di bawah itu, sangat mungkin dibuat retak oleh tubuh redtrail Catfish yang besar.

Pada bagian atas, tutuplah aquarium dengan benda yang berat. Dapat juga anda gunakan kawat, yang sudah didesign khusus dengan kerangka yang kuat. Jika tidak, mungkin saja anda dapati pada suatu pagi Catfish yang anda sayangi tergeletak di lantai rumah anda. kadang kala ikan ini melompat keluar permukaan air di malam hari.

Jangan memberikan pakan terhadap Redtail Catfish anda secara berlebihan. Untuk ikan muda, cukup anda berikan pakan 1 kali dalam satu hari. Untuk ikan yang berumur 2 tahun ke atas, cukup anda berikan pakan dengan frekwensi dua kali dalam satu minggu. Redtail Catfish akan memakan apapun yang anda berikan dalam jumlah banyak (berlebih). Jika kondisi ini berlaku ada 2 kerugian yang akan anda dapatkan. pertama, ikan akan memuntahkan sebagian pakan yang dimakannya. hal ini akan membuat kondisi air menjadi tidak ideal (kotor). Kedua adalah jika ikan memakan dan menelan seluruh pakan yang diberikan berlebih, ikan akan menjadi bongsor. untuk jangka panjang, hal ini kurang baik. karena ikan akan kegemukan dan mudah terkena masalah kesehatan.

Sebagian aquaris, mengkombinasikan pemeliharaan Redtail Catfish dengan beberapa ikan hias lainnya. baik dari jenis catfish lainnya, Knifefish (belida), snakehead fish (gabus0 dan sebagainya. Perlakuan ini sah-sah saja. Tetapi yang harus diingat adalah Redtail Catfish adalah karnivora, tempatkan ikan yang berukuran relatif sama, dan pertumbuhan badannya tidak jauh berbeda. Jika anda memeliharanya dengan ikan yang berukuran lebih kecil, maka umur ikan kecil tersebut hanya tinggal menghitung hari. Redtail Catfish akan melahap semuanya, terutama untuk ikan yang pergerakkannya lambat. Sedangkan untuk kondisi Redtail Catfish dipelihara dengan ikan yang berkuran lebih besar darinya, hal sebaliknya dari yang diterangkan di atas akan terjadi pada Redtail Catfish kesayangan anda, jika ikan yang lebih besar tersebut adalah predator.

Dari paparan di atas, anda akan berasumsi bahwa memelihara Redtail Catfish tidaklah sederhana. Anda membutuhkan uang ekstra untuk listrik yang digunakan untuk filter dan heater, untuk biaya pakan yang kian hari kian bertambah seiring dengan kian bertambahnya ukuran ikan. Selain itu tentu saja anda harus menyediakan ruang yang cukup luas untuk meletakkan aquarium raksasa anda. apalagi jika anda merencanakan pemeliharaan untuk jangka panjang. Uang, waktu dan tenaga adalah ha yang harus anda pertimbangkan untuk memelihara ikan ini. Banyak pemelihara Redtail Catfish, mendapati ikan mereka mati karena berbagai alasan. Listrik yang terputus, kelebihan pemberian pakan, air yang kotor dan aquarium yang terlalu sempit, seringkali menjadi penyebab kematian Redtail Catfish.

Rasa bosan juga sering menghinggapi pemelihara Redtail Catfish. Setelah ikan mencapai ukuran yang besar dengan berbagai kendalanya, banyak pemelihara langsung menghibahkan redtail Catfishnya. Namun hal ini juga tidak mudah, sebab tidak semua orang menyukai ikan hias berukuran besar. Apalagi menjualnya dalam ukuran besar.sebagian penggemar terjebak dengan tampilnnya yang mempesona, saat Redtail Catfish berukuran kecil.

Ide untuk mengembangbiakkan ikan ini juga perlu anda pertimbangkan sekali lagi. pasalnya ikan ini sulit dikembangbiakan. Sedikit sekali informasi yang menjelaskan bahwa ada orang yang mengembangbiakkannya secara intensif, terutama untuk sekala komersial. Redtail Catfish membutuhkan tempat yang luas dan sekaligus mirip dengan habitat aslinya di alam, untuk beranak pinak. Hanya peternak besar saja yang telah berhasil melakukan langkah ini.


Sumber : http://www.indofishtrade.com/memelihara-redtail-catfish-dalam-aquarium/
Read More

Budidaya Ikan Hias : Corydoras (Corydoras aenes)


Corydoras
Corydoras (Corydoras aenes) dengan nama dagang Bronze Catfish berasal dari Venezuela, Trinidad (Amerika Selatan). Ikan ini bersifat karnivora dan terkenal sebagai ikan "tukang bersih-bersih". Corydoras paling senang berada di tempat yang kurang bersih dan memiliki kebiasaan membersihkan dinding-dinding. Namun, kotoran yang sudah dibersihkan dibiarkan bertumpuk, tidak dimakan. Suhu untuk pemijahan ikan ini antara 26-28° C.


Di pasaran saat ini sudah berkembang banyak spesies yang harganya cukup mahal, di antaranya ialah Corydoras paleatus, Corydoras panda, maupun Corydoras sterbai. Jenis corydoras ini memerlukan suhu pemijahan yang relatif rendah dibanding corydoras aenes, yaitu antara 24-26° C.


Panjang tubuhnya dapat mencapai 7 cm. Tubuh tersebut diselimuti dua baris sisik dengan sisik yang lebih besar disebut Plate. Mulutnya dilengkapi sepasang sungut atau kumis yang berguna sebagai sensor atau radar untuk mencari makan di dalam gelap.




Agar corydoras ini tumbuh dengan baik, air untuk pemeliharaannya sebaiknya memiliki nilai pH 7-7,5 dengan kekerasan (hardness) 10° dH. Untuk membantu pertumbuhannya, sebaiknya ke dalam kolam pemeliharaan ditambahkan kapur.




Antara jantan dan betina dapat dibedakan dari pina atau sirip dorsal yang lebih lancip pada betina, sementara jantan lebih tumpul. Bila dilihat dari atas, tubuh betina tampak jauh lebih lebar dibanding jantan.


Agar berpijah dengan baik, sebaiknya induk jantan dan betina dipelihara terpisah dahulu sambil diberi pakan yang baik berupa cacing sutera dan cacing darah. Bila sudah tampak mengandung telur, induk betina dapat dicampur dengan jantan. Umumnya betina siap memijah sekitar umur lima bulan.


pemijahan corydoras dapat berlangsung secara masal dengan perbandingan jantan betina 1 : 2-4. Dalam pemijahan ini biasanya induk betina akan membersihkan sarang sampai bersih dengan mulutnya. Sarang dapat berupa potongan paralon yang digantungkan atau keramik yang diberdirikan di tempat pemijahan.


Walaupun ikan ini tergolong ikan dasar, namun telurnya ditempatkan di tengah kolam air. Induk betina akan mengisap sperma jantan dengan mulutnya dan disimpannya di situ. Dengan kantong yang dibentuk oleh pasangan sirip perut yang dibengkokkan, induk betina akan membawa dan melekatkan telurnya ke tempat atau




sarang yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh yang jantan dan akan dibuahi sperma dari mulutnya. Lekatan telur tersebut sangat kuat. Demikian seterusnya proses pemijahan tersebut berlangsung berulang-ulang hingga telur dalam perut induk betina habis.


Biasanya corycloras akan bertelur atau memijah pada pagi hari sekitar pukul 6.30-7.30. Bila sudah selesai memijah, telurnya dapat diambil bersama dengan sarangnya untuk ditetaskan dalam wadah tersendiri. Di dalam wadah penetasan, aerasi untuk suplai oksigen sangat diperlukan. Telur tersebut akan menetas dalam waktu tiga hari (72 jam) dan larvanya dapat berenang setelah berumur 5-6 hari.




Pakan larva ikan dapat berupa kutu air yang diberikan selama beberapa hari (2-3 hari). Setelah itu, larva sudah bisa diberi pakan cacing sutera. Sementara penggantian air dilakukan setelah larva berumur seminggu. penggantian air ini dilakukan dengan cara menyifon setiap hari sebanyak separo atau sepertiga volume air. Bila memungkinkan, ke dalam wadah dipasangkan filter khusus larva untuk menjaga kualitas air tetap bagus.




Setelah ikan berumur dua minggu, kegiatan penjarangan dan seleksi ukuran dapat dilakukan. Pakannya berupa cacing sutera.
Setelah dipelihara selama dua bulan biasanya ikan sudah mencapai ukuran 2-2,5 cm dan sudah siap dijual. Ini disebabkan ukuran terbesar untuk pasar ekspor adalah 2,5 cm. Ukuran yang lebih besar biasanya akan membawa risiko dalam pengangkutan. Ikan yang besar memiliki patil atau duri sangat keras di sirip kepala. Patil ini akan keluar kalau ikan mengalami stres sehingga dapat membocorkan kantong plastik saat pengangkutan.

Sumber : http://hobiikan.blogspot.com/2009/01/budidaya-ikan-hias-corydoras-corydoras.html
Read More

Budidaya Ikan Baung organik

TEKNIK BUDIDAYA IKAN BAUNG ORGANIK DENGAN PUPUK SELF3
( NUTRISI IKAN PROBIOTIK)
Langkah – langkah yang dilakukan :
1.      Persiapan lahan / kolam
2.      Persiapan / pengolahan lahan / kolam
3.      Pengisian air ke lahan / kolam
4.      Pemilihan bibit
5.      Pemberian pakan tambahan
1.   Persiapan lahan / kolam
  • Kolam dapat langsung ke tanah dengan kedalamam ± 1,2 m
  • Kolam bisa dengan menggunakan terpal plastik dengan ketinggian  ± 100 -120cm
2.   Persiapan lahan
      Setelah  lahan / kolam siap :
  • Masukkan pupuk kandang ( kotoran sapi, kerbau dll ) atau pupuk kompos, dengan ketinggian  5 -10 cm merata kesemua permukaan lahan / kolam.
  • Usahakan pupuk kandang bersih dari bekas pakan/daun yang belum terurai.
  • Campurkan SELF3Nutrisi Ikan + air , dengan perbandingan  1000 ml : 20 lt ,  untuk lahan dengan luasan 5 ( lima ) m2.
  • Aduk campuran tersebut diatas dengan pupuk kandang yang telah disiapkan sampai kondisi  becek seperti bubur Kemudian taburkan aktivator sebanyak 20-30 gram,untuk luas 5 ( lima ) m2 .Luas diatas ukuran tersebut takaran menyesuaikan.
  • Langkah selanjutnya tutup kolam dengan terpal plastik untuk proses fermentasi selama  7-10 hari.(Proses Anaerob)
3.   Setelah proses fermentasi selesai :
  • Cek kondisi gas metana, dengan cara menyalakan korek api diatas media, kalau mucul api diatas media maka gas metana masih aktif, atau dengan cara menginjak  media dengan kaki, kalau muncul gelembung udara maka gas metana masih aktif. Dan lakukan proses fermentasi kembali dengan menyemprotkan Nutrisi Ikan ke atas media dan menutup kembali dengan terpal plastik sampai 3 hari.
  • Tanda proses fermentasi berhasil adalah tidak muncul gelembung udara ketika dilakukan penginjakan pada media atau tidak muncul api ketika diatas media dinyalakan api.
  • Langkah selanjutnya adalah mengisi kolam dengan air dengan kedalaman mulai 70cm diamkan selama 7 hari dan untuk menumbuhkan perkembangan plankton secara maksimal diamkan selama 10 hari,  Sebaiknya jangan menggunakan air PAM yang mengandung Klorin/Kaporit karena bisa membuat benih ikan mati, Gunakanlah air sumur atau air sungai yang tidak tercemar bahan-bahan berbahaya.
  • Bersihkan bahan organik yang tidak terfermentasi seperti Jerami , rumput dan hijauan lainya yang ada di dasar maupun permukaan kolam dengan jalan mengaduk-aduk hingga terapung atau gunakan kayu untuk membersihkan bahan yang tidak terfermentasi.
  • Setelah bersih dari bahan yang tidak terfermentasi diamkan selama 24 jam benih baru di tebar.
4. Pemilihan bibit
  • Ukuran bibit yang dipilih harus  sama atau seragam sebagai contoh ukuran panjang minimal 3 cm, Atau lebih akan lebih aman dan mempercepat panen.
  • Pilih bibit yang benar-benar sehat dari pusat benih dengan galur Induk murni atau sudah teruji
  • Setelah bibit siap masukkan bibit ke  kolam dengan kepadatan 1m :  250 ekor .jika sudah professional bisa 300-500 ekor/m2
  • Untuk penyesuaian air biarkan benih  melakuakan Aklimatisasi sendiri dengan cara masukan bibit  beserta wadahnya kedalam kolam secara terbuka biarkan benih keluar sendiri dari wadahnya sampai habis.
  • Penebaran benih di Anjurkan pada malam hari antara Jam 19.30 - 24.00.
5. Pemberian pakan
  • Setelah satu  minggu mulai diberi pancingan pakan dengan protein tinggi 26-30% sebanyak 1 sendok teh/makan apabila belum dimakan biarkan lagi selama 1 minggu dan dilakukan hal yang sama jika sudah mau makan lanjutkan pemberian pakan secara rutin setiap malam , untuk memacu pembesaran ikan dan ketahanan tubuh yang maksimal.
  • Teknik pemberian pakan sebaiknya ditebarkan ke lahan / kolam secara merata tujuannya untuk menghindarai ikan lele yang kurang aktif.
  • Pemberian pakan selanjutnya berupa  pelet, sebaiknya diberikan pada waktu sore/setelah matahari terbenam sedangkan pagi/sebelum matahari panas dapat diberi pakan tambahan berupa Cacahan umbi-umbian atau kulit buah-buahan yang sudah difermentasi dengan SELF3 Nutrisi Ikan  dengan jumlah disesuaikan dengan besaran Ikan antara 2-3% dari total berat rata-rata ikan..
  • Pemberian pakan lain bisa dengan memasukan langsung seperti ampas tahu/tempe, ayam tiren ,bekicot ,keong, kepala ikan , jroan  dll yang mudah dicerna ikan atau disesuaikan dengan besaran ikan tanpa harus melalui proses pengolahan.
  • Untuk pemebrian pakan pelet gunakan pelet terapung dan tenggelam diberikan secara bersamaan dengan perbandingan campuran 50 : 50 untuk meminimalisasi ikan yang tidak terdistribusi pakan.
6. Penyehatan air lahan / kolam
  • Penyehatan air lahan / kolam dapat dilakukan dengan cara pemberian 2 tutup botol SELF3 Nutrisi Ikan ke lahan / kolam untuk 1m2.
Keuntungan Budidaya dengan menggunakan SELF3  nutrisi ikan antara lain :
1.Kematian ikan saat penebaran benih hampir tidak terjadi atau dibawah 1%
2. Menghemat pakan  berkisar 25-30%
3.Penggunaan limbah untuk pakan bisa langsung diaplikasikan dalam tanpa proses pemasakan
4.Tidak membutuhkan penggantian air sampai Panen
5.Ramah Lingkungan karena tidak berbau meskipun tiap hari diberi pakan pelet maupun sisa makanan 
6.Bau Ikan tidak Amis
5.Ikan kemungkinan kecil terserang penyakit karena dengan sistem ini kualitas air terjaga oleh mikro  organisme dalam SELF3 Nutrisi Ikan
6.Ikan hasil panen berasa lebih Gurih dan aroma yang segar
7.Memudahkan sortasi ikan supaya tidak terjadi kanibalisme
8.Air Kolam bekas Budidaya bisa dijadikan Pupuk organik yang sangat bagus
9.Biaya pemeliharaan sepadan dengan hasil panen.
10.Tidak memerlukan perhatian khusus terhadap kolam kecuali Bocor.

Dengan Teknik ini akan di Peroleh angka Penghematan :
1. Pakan sekurang-kurangnya 25 - 30 %
2. Air sekitar 5%
3. Kematian ikan 5% - 10 %
4. Perawatan Kolam 5%
5. Sisa air Kolam dijadikan Pupuk Majemuk tanaman akan menghasilkan 5%
6.Kolam bisa di gunakan 4 kali pemakaian tanpa harus mengganti air kolam cukup di tambahkan SELF3 Nutrisi ikan Kolam siap tebar benih kembali
 
 
Read More

BUDIDAYA IKAN HIAS LIVE BEARER

1. PENDAHULUAN
Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium. Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia. Dari sekian banyak jenis ikan hias, tidak semuanya telah dapat dibudidayakan. Dalam menternakkan ikan hias harus diperhatikan bahwa masing-masing jenis mempunyai sifat dan kebiasaan hidup yang berbeda-beda, misalnya dalam cara pemijahan, bertelur ataupun menyusun sarangnya.
Ikan Guppy
Ikan Molly
Ikan Platy
Ikan Sword Tail
Cara perkembangbiakkan ikan hias ada beberapa macam:
  1. Ikan-ikan hias yang beranak.
  2. Ikan-ikan hias yang bertelur berserakan.
  3. Ikan-ikan hias yang meletakkan telurnya pada suatu subtrat.
  4. Ikan-ikan hias yang menetaskan telurnya dalam sarang busa.
  5. Ikan-ikan yang mengeramkan telurnya di dalam mulut.
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai cara-cara pemeliharaan ikan hias yang beranak (live bearer), misalnya:
  1. Ikan Guppy (Poecilia reticulata Guppy)
  2. Ikan Molly (Poelicia latipinna Sailfin molly)
  3. Ikan Platy (Xiphophorus maculatus Platy)
  4. Ikan Sword tail (Xiphophorus helleri Sword tail)
2. CIRI-CIRI INDUK JANTAN DAN BETINA
  1. Induk Jantan
    1. Mempunyai gonopodium (berupa tonjolan dibelakang sirip perut) yang merupakan modifikasi sirip anal yang berupa menjadi sirip yang panjang.
    2. Tubuhnya rampaing.
    3. Warnanya lebih cerah.
    4. Sirip punggung lebih panjang.
    5. Kepalanya besar.
  2. Induk Betina
    1. Dibelakang sirip perut tidak ada gonopodium, tetapi berupa sirip halus.
    2. Tubuhnya gemuk
    3. Warnanya kurang cerah.
    4. Sirip punggung biasa.
    5. Kepalanya agak runcing.
3. HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PEMELIHARAAN
  1. Air yang diperlukan adalah ari yang cukup mengandung Oksigen (O2) dan jernih.
  2. Suhu air berkisar antara 15 ~ 27°C.
  3. pH yang disukai agak sedikit alkalis, yaitu berkisar 7 ~ 8.
  4. Makanan yang diberikan dapat berupa makanan alami (cuk, cacing, kutu air) dan makanan buatan, diberikan secukupnya.
4. TEKNIK PEMIJAHAN
  1. Pemilihan induk. Pilihlah induk yang berukuran relatif besar, bentuk tubuh yang mengembung serta mempunyai warna yang indah.
  2. Induk-induk yang telah dipilih dimasukkan dalam satu bak untuk beberapa pasang induk. Namun apabila menghendaki keturunan tertentu dapat pula dilakukan dengan cara memisahkan dalam bak tersendiri sepasang-sepasang.
  3. Bak-bak pemijahan harus dikontrol setiap hari. Setelah lahir, anak-anak ikan harus cepat-cepat diambil dan dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan oleh induknya.
5. PERAWATAN BENIH
  1. Anak-anak ikan yang baru lahir belum membutuhkan makanan, karena masih mengandung kuning telur (yolk egg). Setelah 4 ~ 5 hari anak ikan baru dapat diberi makanan berupa kutu air yang sudah disaring, atau kuning telur yang telah direbus dan dihancurkan.
  2. Setelah mencapai ukuran medium (2 ~ 3 cm) dapat diberikan makanan cacing, kemudian setelah mencapai ukuran dewasa (5 ~ 7 cm) dapat diberi makanan cuk.
  3. Disamping makanan alami dapat pula diberi makanan tambahan berupa cacing kering, agar-agar dll.
  4. Pemberian makanan sebaiknya 2 kali sehari, hendaknya jangan berlebihan, karena dapat menyebabkan pembusukan yang dapat meerusak kualitas air.
  5. Pergantian air. Air dalam bak atau aquarium jangan sampai kotor/keruh, karena dapat menyebabkan kematian anak ikan. Kotoran dapat dibersihkan setiap 2 ~ 3 hari sekali dengan cara disiphon, air yang terbuang pada waktu penyiphonan sebanyak 10 ~20% dapat diganti dengan air yang baru.
6. PENUTUP
Budidaya ikan live bearer ini sangat mudah dan mempunyai tingkat keberhasilan yang tinggi. Untuk satu pasang ikan dapat menghasilkan 50 sampai 100 ekar ikan untuk satu kali pemijahan, dengan harga perekor Rp. 25,-sampai Rp. 75,-. Jenis ikan ini juga merupakan ikan hias yang dapat di eksport misalnya: ikan Guppy. Dengan teknik pemeliharaan yang tepat dan ketekunan yang tinggi akan didapat hasil dengan warna yang sangat indah.
7. SUMBER
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta, 1996
8. KONTAK HUBUNGAN
Dinas Perikanan DKI Jakarta, Jakarta
 http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=3&doc=3c1
Read More

Teknik Pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)

 
I. Teknik pembenihan Ikan Papuyu (Anabas testudineus Bloch)
PENDAHULUAN
Ikan Papuyu merupakan ikan air tawar Lokal Yang mempunyai Diskonto Ekonomis Tinggi, Dan digemari oleh Masyarakat Kalimantan terutama Masyarakat Kalimantan Selatan, tetapi Proforma banyak dibudidayakan. Untuk ITU diperlukan Company 's name pembenihan guna kontinuitas suplai Benih Yang memenuhi syarat kualitas Dan kuantitasnva.Usaha pembenihan bertujuan untuk menghasilkan Benih Illustrasi JUMLAH Besar, sehingga tidak Tergantung PADA ketersediaan di alam Yang PADA akhirnya dapat menunjang lingkungan kegiatan Company 's name pembesaran Dan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Petani ikan sekaligusdapat menunjang peningkatan Produksi budidayanya. JUGA turut Serta Dalam, upaya pelestarian plasma nuftah PADA umumnya Dan khususnya ikan Papuyu.
Biologi IKAN PAPUYU

Sistematika * Menurut Hasannudin Saanin (1984) sebagai berikut:Filum: ChordataSub Filum: VertebrataKelas: PiscesSub Kelas: TeleosteiOrdo: LabytinthichiFamili: AnabantidaeGenus: AnabasSpesies: Anabas testudineus Bloch
Nama di Daerah: betik Jawa Dan Sunda, Papuyu (Banjarmasin), Puyu (Malaya) Dan Kalimantan Timur, Geteh-geteh (Manado).
Nama di UMUM: Berjalan Ikan atau Perch Climbing.
Pembenihan
Tahapan lingkungan kegiatan pembenihan ikan Papuyu meliputi Seleksi induk. pemijahan. penetasan Telur Dan pemeliharan larva.
1. Seleksi Induk
a. Ciri-ciri induk Jantan Dan Betina

Betina:

    
Tubuh gemuk Dan Lebar kesamping,
    
Warna Badan BACAKAN Gelap,
    
Sirip Punggung lebih pendek,
    
Bagian Bawah Perut BACAKAN melengkung,
    
Acute Matang gonad PADA bagian Perut diurut Akan keluar Telur,
    
Alat kelamin berwarna kemerah-merahan.
Jantan:

    
Tubuh ramping Dan Panjang,
    
Warna Badan BACAKAN cerah,
    
Sirip Punggung lebih Panjang,
    
Bagian Bawah Perut rata,
    
Acute Perut diurut Akan keluar Cairan sperma berwarna putih susu.
b. Beberapa persyaratan induk

    
Ukuran induk Betina Yang Diatas yang ideal 90 gram Dan Jantan Diatas 30 gram,
    
Badan terlihat Segar (tidak Cacat) Dan gerakannva lincah,
    
Mampu menghasilkan Telur Dalam, JUMLAH cukup banyak,
    
Umur induk lebih bahasa Dari 10 month,
    
Pertumbuhannya CEPAT.
2. Pemijahan
a. BAHAN Dan Alat

    
Induk ikan papuyu Yang Matang gonad
    
Ovaprim
    
Aquabidest
    
Akuarium ukuran 60 x 40 x 45 cm
    
Alat suntik
    
Alat aerasi (Hi-Blow/Aerator)
    
Baskom, serok senter Dan timbangan
b. Perlakuan
Ikan Papuyu memijah Sepanjang Musim penghujan, PADA SAAT musimnya Mampu memijah 2 - 3 Kali Artikel Baru JUMLAH Telur (fekunditas) 5,000-15,000 butir. Pemijahan dilakukan Artikel Baru induce breeding (kawin suntik) menggunakan hormon ovaprim, dosis penyuntikan 0,5 cc / kg induk. Perbandingan 1: 1 (Illustrasi Kendaraan bermotor). Pemijahan dapat dilakukan di akuarium atau fiber glass. Penyuntikan secara intramuskular PADA otot Punggung induk. Induk Betina 2 Kali penyuntikan Dan induk Jantan 1 Kali penyuntikan. Interval waktu penyuntikan I Ke penyuntikan II adalah 6 jam. Penyuntikan induk Jantan bersamaan PADA SAAT penyuntikan II induk Betina. Proses imunisasi meliputi terjadinya ovulasi Tanpa dilakukan stripping (pemijahan secara Alami).
3. Penetasan Telur
Penghasilan kena pajak penyuntikan II induk Betina, Maka Akan terjadi ovulasi 5 jam berikutnya. Telur menetas Akan Illustrasi waktu 20 - 24 jam PADA SUHU 260C atau Akan menetas Dalam, waktu 12 jam PADA SUHU 300C. Prosentase Bahasa Dari Telur Yang dibuahi sekitar 95% Artikel Baru Daya tetas (HR) 95%. Penetasan Telur Bisa Langsung di akuarium atau Langsung Ke klien untuk membuka posisi Pendederan I Acute sudah SIAP.
4. Pemeliharaan Larva
Larva Yang Baru menetas tidak Perlu diberi MAKANAN tambahan sebab Masih mempunyal cadangan MAKANAN bahasa Dari kantong.Untuk kuning Telur (kuning telur). Penghasilan kena pajak larva berumur 4 Hari diberi MAKANAN tambahan berupa ketegangan kuning Telur. Frekuensi pemberian pakan 3 Kali sehari (Pagi, Siang Dan sakit) selama 10 Hari. Penghasilan kena pajak ITU Bisa diberikan MAKANAN pelet Yang dihaluskan. Masa Kritis larva terjadi PADA SAAT Hari Ke-7 sampai Hari Ke-14. Pendederan larva dilakukan di KOLAM setengah permanen, dimana KOLAM nihil terlebih PT KARYA CIPTA PUTRA dilakukan pengolahan Lahan Artikel Baru diberi dosis pupuk Dan kapur Sesuai anjuran.
Pemeliharaan inisial selama 45 Hari Artikel Baru Padat tebar 50 ekor / m. Selama Masa Pemeliharaan 45 Hari Benih ikan diberi pakan tambahan berupa pellet Yang dihancurkan sebanyak 10 - 20% per Hari Artikel Baru frekuensi pemberian 2 Kali / hari. Umur 45 Hari sudah mencapai Benih ukuran 1 - 3 cm, Dan Benih Bisa dipanen untuk di tebar Ke KOLAM pendederan berikutnya.


Hak Cipta 2003, menurut Departemen Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
II. Buatan propagasi dan budaya bertengger memanjat (Anabas testudineusBloch, 1792) di Delta Mekong2.006
Posted by: adminPosted on: 08/06/2008Duong Nhut Panjang, Lam My Lan, Nguyen Anh Tuan & Jean-Claude Micha (2006). Buatan propagasi dan budaya mendaki bertengger (Anabas testudineus Bloch, 1792) di Delta Mekong.Meded. Zitt. K. Acad. Overzeese Basah. Bull. Séanc. Acad. R. Sci. Outre-Mer 52 (3) 2006, papes279-302.
Abstrak:Climbing bertengger adalah spesies air tawar baru untuk budidaya ikan yang telah dikembangkan baru-baru dalam sistem intensif. Hasil menunjukkan bahwa induk pendakian pematangan bertengger jangkauan setelah 50-60 hari dan pemijahan buatan dapat dengan mudah dirangsang oleh hormon injeksi '(0,8 mg / kgikan mas yang hipofisis kelenjar, 3.000 UI / kg HCG dan 50 mg / kg LH-RHA). Sejauh berat badan yang bersangkutan, berat badan akhir mendaki bertengger setelah 6 bulan adalah 66 g / ikan di kepadatan awal yang tinggi (50 fish/m2) tetapi lebih rendah dari 72 g / ikan di kepadatan lemah (30 fish/m2). Biomassa ikan total yang diperoleh adalah (24.600 kg / ha dengan kerapatan lemah (30 fish/m2) dibandingkan dengan 21.300 kg / ha. Namun, rasio biaya manfaat dan keuntungan biaya rasio lebih rendah (1,56 dan 0,56) pada kepadatan mulai lemah dibandingkan dengan kerapatan yang lebih tinggi (1,64 dan 0,64). Oleh karena itu, hasil memberikan informasi berharga bagi para petani ikan sehingga mereka dapat memilih strategi budaya mereka.


Sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Sumber :http://www.ctu.edu.vn/colleges/aquaculture/english
Read More

Budidaya Ikan Bandeng


Judul Pola Pembiayaan Budidaya Ikan Bandeng (Syariah)
Sumber Data Direktorat Kredit, BPR dan UMKM
Contact DKBU, Telp : (021) 3817512 / 3818043 / 3818581, Fax : (021) 3518951
Lampiran Budidaya Ikan Bandeng (Syariah)

Lampiran









Bandeng adalah jenis ikan konsumsi yang tidak asing bagi masyarakat. Bandeng merupakan hasil tambak, dimana budidaya hewan ini mula-mula merupakan pekerjaan sampingan bagi nelayan yang tidak dapat pergi melaut. Itulah sebabnya secara tradisional tambak terletak di tepi pantai. Bandeng merupakan hewan air yang bandel, artinya bandeng dapat hidup di air tawar, air asin maupun air payau. Selain itu bandeng relatif tahan terhadap berbagai jenis penyakit yang biasanya menyerang hewan air. Sampai saat ini sebagian besar budidaya bandeng masih dikelola dengan teknologi yang relatif sederhana dengan tingkat produktivitas yang relatif rendah. Jika dikelola dengan sistim yang lebih intensif produktivitas bandeng dapat ditingkatkan hingga 3 kali lipatnya
Dari aspek konsumsi bandeng adalah sumber protein yang sehat sebab bandeng adalah sumber protein yang tidak mengandung kolesterol. Bandeng presto, bandeng asap, otak-otak adalah beberapa produk bandeng olahan yang dapat dijumpai dengan mudah di supermarket. Selama sepuluh tahun terakhir permintaan bandeng meningkat dengan 6,33% rata-rata per tahun, tetapi produksi hanya meningkat dengan 3,82%
Budidaya bandeng tidak menimbulkan pencemaran lingkungan baik air kotor maupun bau amis. Pemeliharaan bandeng yang sehat mensyaratkan air dan tambak yang bersih serta tidak tercemar.
Studi ini menjelaskan beberapa aspek budidaya bandeng yang dimulai dengan profil budidaya bendeng secara umum pada bab 2. Pemasaran di wilayah penelitian dan prediksi permintaan dan penawaran tingkat nasional dijelaskan pada bab 3. Aspek teknis pemeliharaan intensif disajikan pada bab 4. Bab 5 secara khusus menyajikan aspek keuangan budidaya bandeng pola pemeliharaan semi intensif. Bab 6 membahas peran budidaya bandeng dan masalah yang dihadapi, ditutup dengan bab 7 kesimpulan dan saran untuk pengembangan usaha budidaya bandeng.

Read More

Budidaya Udang Windu

I. Pendahuluan
Udang merupakan jenis ikan konsumsi air payau, badan beruas berjumlah 13 (5 ruas kepala dan 8 ruas dada) dan seluruh tubuh ditutupi oleh kerangka luar yang disebut eksosketelon. Umumnya udang yang terdapat di pasaran sebagian besar terdiri dari udang laut. Hanya sebagian kecil saja yang terdiri dari udang air tawar, terutama di daerah sekitar sungai besar dan rawa dekat pantai. Udang air tawar pada umumnya termasuk dalam keluarga Palaemonidae, sehingga para ahli sering menyebutnya sebagai kelompok udang palaemonid. Udang laut, terutama dari keluarga Penaeidae, yang bisa disebut udang penaeid oleh para ahli.

Udang merupakan salah satu bahan makanan sumber protein hewani yang bermutu tinggi. Bagi Indonesia udang merupakan primadona ekspor non migas. Permintaan konsumen dunia terhadap udang rata‐rata naik 11,5% per tahun. Walaupun masih banyak kendala, namun hingga saat ini negara produsen udang yang menjadi pesaing baru ekspor udang Indonesia terus bermunculan. Budidaya udang windu di Indonesia dimulai pada awal tahun 1980-an, dan mencapai puncak produksi pada tahun 1985-1995. Sehingga pada kurun waktu tersebut udang windu merupakan penghasil devisa terbesar pada produk perikanan. Selepas tahun 1995

JENIS
Klasifikasi udang adalah sebagai berikut:
Klas : Crustacea (binatang berkulit keras)
Sub‐klas : Malacostraca (udang‐udangan tingkat tinggi)
Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda (binatang berkaki sepuluh)
Sub‐ordo : Natantia (kaki digunakan untuk berenang)
Famili : Palaemonidae, Penaeidae

MANFAAT
!) Udang merupakan bahan makanan yang mengandung protein tinggi, yaitu 21%, dan rendah kolesterol, karena kandungan lemaknya hanya 0,2%. Kandungan vitaminnya dalam 100 gram bahan adalah vitamin A 60 SI/100; dan vitamin B1 0,01 mg. Sedangkan kandungan mineral yang penting adalah zat kapur dan fosfor, masing-masing 136 mg dan 170 mg per 100 gram bahan.
2) Udang dapat diolah dengan beberapa cara, seperti beku, kering, kaleng, terasi, krupuk, dll. 3) Limbah pengolahan udang yang berupa jengger (daging di pangkal kepala) dapat dimanfaatkan untuk membuat pasta udang dan hidrolisat protein.
4) Limbah yang berupa kepala dan kaki udang dapat dibuat tepung udang, sebagai sumber kolesterol bagi pakan udang budidaya.
5) Limbah yang berupa kulit udang mengandung chitin 25% dan di negara maju sudah dapat dimanfaatkan dalam industri farmasi, kosmetik, bioteknologi, tekstil, kertas, pangan, dll.
6) Chitosan yang terdapat dalam kepala udang dapat dimanfaatkan dalam industri kain, karena tahan api dan dapat menambah kekuatan zat pewarna dengan sifatnya yang tidak mudah larut dalam air.

II. Teknis Budidaya
Budidaya udang windu meliputi beberapa faktor, yaitu :
2.1. Syarat Teknis 
- Lokasi yang cocok untuk tambak udang yaitu pada daerah pantai yang mempunyai tanah bertekstur liat atau liat berpasir yang mudah dipadatkan sehingga mampu menahan air dan tidak mudah pecah.
- Air yang baik yaitu air payau dengan salinitas 0-33 ppt dengan suhu optimal 26 - 300C dan bebas dari pencemaran bahan kimia berbahaya.
- Mempunyai saluran air masuk/inlet dan saluran air keluar/outlet yang terpisah.
- Mudah mendapatkan sarana produksi yaitu benur, pakan, pupuk , obat-obatan dan lain-lain.
- Pada tambak yang intensif harus tersedia aliran listrik dari PLN atau mempunyai Generator sendiri.

2.2. Tipe Budidaya.
Berdasarkan letak, biaya dan operasi pelaksanaannya, tipe budidaya dibedakan menjadi :
- Tambak Ekstensif atau tradisional.
Petakan tambak biasanya di lahan pasang surut yang umumnya berupa rawa bakau. Ukuran dan bentuk petakan tidak teratur, belum meggunakan pupuk dan obat-obatan dan program pakan tidak teratur.
- Tambak Semi Intensif.
Lokasi tambak sudah pada daerah terbuka, bentuk petakan teratur tetapi masih berupa petakan yang luas (1-3 ha/petakan), padat penebaran masih rendah, penggunaan pakan buatan masih sedikit.
- Tambak Intensif.
Lokasi di daerah yang khusus untuk tambak dalam wilayah yang luas, ukuran petakan dibuat kecil untuk efisiensi pengelolaan air dan pengawasan udang, padat tebar tinggi, sudah menggunakan kincir, serta program pakan yang baik.

2.3. Benur / BIBIT
href="http://budidayanews.blogspot.com/2011/04/cara-pembibitan-udang-windu.html">Pembibitan

2.4. Pengolahan Lahan
Pengolahan lahan, meliputi :
- Pengangkatan lumpur. Setiap budidaya pasti meninggalkan sisa budidaya yang berupa lumpur organik dari sisa pakan, kotoran udang dan dari udang yang mati. Kotoran tersebut harus dikeluarkan karena bersifat racun yang membahayakan udang. Pengeluaran lumpur dapat dilakukan dengan cara mekanis menggunakan cangkul atau penyedotan dengan pompa air/alkon.
- Pembalikan Tanah. Tanah di dasar tambak perlu dibalik dengan cara dibajak atau dicangkul untuk membebaskan gas-gas beracun (H2S dan Amoniak) yang terikat pada pertikel tanah, untuk menggemburkan tanah dan membunuh bibit panyakit karena terkena sinar matahari/ultra violet.
- Pengapuran. Bertujuan untuk menetralkan keasaman tanah dan membunuh bibit-bibit penyakit. Dilakukan dengan kapur Zeolit dan Dolomit dengan dosis masing-masing 1 ton/ha.
- Pengeringan. Setelah tanah dikapur, biarkan hingga tanah menjadi kering dan pecah-pecah, untuk membunuh bibit penyakit.
- Perlakuan pupuk TON ( Tambak Organik Nusantara ). Untuk mengembalikan kesuburan lahan serta mempercepat pertumbuhan pakan alami/plankton dan menetralkan senyawa beracun, lahan perlu diberi perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha untuk tambak yang masih baik atau masih baru dan 10 botol TON untuk areal tambak yang sudah rusak. Caranya masukkan sejumlah TON ke dalam air, kemudian aduk hingga larut. Siramkan secara merata ke seluruh areal lahan tambak.
2.5. Pemasukan Air
Setelah dibiarkan 3 hari, air dimasukkan ke tambak. Pemasukan air yang pertama setinggi 10-25 cm dan biarkan beberapa hari, untuk memberi kesempatan bibit-bibit plankton tumbuh setelah dipupuk dengan TON. Setelah itu air dimasukkan hingga minimal 80 cm. Perlakuan Saponen bisa dilakukan untuk membunuh ikan yang masuk ke tambak. Untuk menyuburkan plankton sebelum benur ditebar, air dikapur dengan Dolomit atau Zeolit dengan dosis 600 kg/ha.

2.6. Penebaran Benur.
Tebar benur dilakukan setelah air jadi, yaitu setelah plankton tumbuh yang ditandai dengan kecerahan air kurang lebih 30-40 cm. Penebaran benur dilakukan dengan hati-hati, karena benur masih lemah dan mudah stress pada lingkungan yang baru. Tahap penebaran benur adalah :
- Adaptasi suhu. Plastik wadah benur direndam selama 15 30 menit, agar terjadi penyesuaian suhu antara air di kolam dan di dalam plastik.
- Adaptasi udara. Plastik dibuka dan dilipat pada bagian ujungnya. Biarkan terbuka dan terapung selama 15 30 menit agar terjadi pertukaran udara dari udara bebas dengan udara dalam air di plastik.
- Adaptasi kadar garam/salinitas. Dilakukan dengan cara memercikkan air tambak ke dalam plastik selama 10 menit. Tujuannya agar terjadi percampuran air yang berbeda salinitasnya, sehingga benur dapat menyesuaikan dengan salinitas air tambak.
- Pengeluaran benur. Dilakukan dengan memasukkan sebagian ujung plastik ke air tambak. Biarkan benur keluar sendiri ke air tambak. Sisa benur yang tidak keluar sendiri, dapat dimasukkan ke tambak dengan hati-hati/perlahan.

2.7. Pemeliharaan.
Pada awal budidaya, sebaiknya di daerah penebaran benur disekat dengan waring atau hapa, untuk memudahkan pemberian pakan. Sekat tersebut dapat diperluas sesuai dengan perkembangan udang, setelah 1 minggu sekat dapat dibuka. Pada bulan pertama yang diperhatikan kualitas air harus selalu stabil. Penambahan atau pergantian air dilakukan dengan hati-hati karena udang masih rentan terhadap perubahan kondisi air yang drastis. Untuk menjaga kestabilan air, setiap penambahan air baru diberi perlakuan TON dengan dosis 1 - 2 botol TON/ha untuk menumbuhkan dan menyuburkan plankton serta menetralkan bahan-bahan beracun dari luar tambak.
Mulai umur 30 hari dilakukan sampling untuk mengetahui pekembanghan udang melalui pertambahan berat udang. Udang yang normal pada umur 30 hari sudah mencapai size (jumlah udang/kg) 250-300. Untuk selanjutnya sampling dilakukan tiap 7-10 hari sekali. Produksi bahan organik terlarut yang berasa dari kotoran dan sisa pakan sudah cukup tinggi, oleh karena itu sebaiknya air diberi perlakuan kapur Zeolit setiap beberapa hari sekali dengan dosis 400 kg/ha. Pada setiap pergantian atau penambahan air baru tetap diberi perlakuan TON.
Mulai umur 60 hari ke atas, yang harus diperhatikan adalah manajemen kualitas air dan kontrol terhadap kondisi udang. Setiap menunjukkkan kondisi air yang jelek (ditandai dengan warna keruh, kecerahan rendah) secepatnya dilakukan pergantian air dan perlakuan TON 1-2 botol/ha. Jika konsentrasi bahan organik dalam tambak yang semakin tinggi, menyebabkan kualitas air/lingkungan hidup udang juga semakin menurun, akibatnya udang mudah mengalami stres, yang ditandai dengan tidak mau makan, kotor dan diam di sudut-sudut tambak, yang dapat menyebabkan terjadinya kanibalisme.

2.8. Panen.
Udang dipanen disebabkan karena tercapainya bobot panen (panen normal) dan karena terserang penyakit (panen emergency). Panen normal biasanya dilakukan pada umur kurang lebih 120 hari, dengan size normal rata-rata 40 - 50. Sedang panen emergency dilakukan jika udang terserang penyakit yang ganas dalam skala luas (misalnya SEMBV/bintik putih). Karena jika tidak segera dipanen, udang akan habis/mati.
Udang yang dipanen dengan syarat mutu yang baik adalah yang berukuran besar, kulit keras, bersih, licin, bersinar, alat tubuh lengkap, masih hidup dan segar. Penangkapan udang pada saat panen dapat dilakukan dengan jala tebar atau jala tarik dan diambil dengan tangan. Saat panen yang baik yaitu malam atau dini hari, agar udang tidak terkena panas sinar matahari sehingga udang yang sudah mati tidak cepat menjadi merah/rusak.

III. Pakan Udang.
Pakan udang ada dua macam, yaitu pakan alami yang terdiri dari plankton, siput-siput kecil, cacing kecil, anak serangga dan detritus (sisa hewan dan tumbuhan yang membusuk). Pakan yang lain adalah pakan buatan berupa pelet. Pada budidaya yang semi intensif apalagi intensif, pakan buatan sangat diperlukan. Karena dengan padat penebaran yang tinggi, pakan alami yang ada tidak akan cukup yang mengakibatkan pertumbuhan udang terhambat dan akan timbul sifat kanibalisme udang.
Pelet udang dibedakan dengan penomoran yang berbeda sesuai dengan pertumbuhan udang yang normal.
a. Umur 1-10 hari pakan 01
b. Umur 11-15 hari campuran 01 dengan 02
c. Umur 16-30 hari pakan 02
d. Umur 30-35 campuran 02 dengan 03
e. Umur 36-50 hari pakan 03
f. Umur 51-55 campuran 03 dengan 04 atau 04S
(jika memakai 04S, diberikan hingga umur 70 hari).
g. Umur 55 hingga panen pakan 04, jika pada umur 85 hari size rata-rata mencapai 50, digunakan pakan 05 hingga panen.
Kebutuhan pakan awal untuk setiap 100.000 ekor adalah 1 kg, selanjutnya tiap 7 hari sekali ditambah 1 kg hingga umur 30 hari. Mulai umur tersebut dilakukan cek ancho dengan jumlah pakan di ancho 10% dari pakan yang diberikan. Waktu angkat ancho untuk size 1000-166 adalah 3 jam, size 166-66 adalah 2,5 jam, size 66-40 adalah 2,5 jam dan kurang dari 40 adalah 1,5 jam dari pemberian.
Untuk meningkatkan pertumbuhan udang, perlu penambahan nutrisi lengkap dalam pakan. Untuk itu, pakan harus dicampur dengan POC NASA yang mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin dengan dosis 5 cc/kg pakan untuk umur dibwah 60 hari dan setelah itu 10 cc/kg pakan hingga panen.



Sumber : http://budidayanews.blogspot.com/2011/04/i.html
Read More

Budidaya Ikan Tawes

Artikel ini dipetik dari www.iptek.net.id agar informasinya lebih tersebar ke masyarakan dan memanfaatkannya untuk membuka peluang usaha, terutama usaha keluarga kearah peningkatan ekonomi keluarga, menuju cita-cita bangsa menjadi masyarakat adil dan makmur.

PEMBENIHAN IKAN TAWES
(Puntius Javanicus. Blkr)
 
1. PENDAHULUAN
Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi. Usaha pembenihan banyak dilakukan di Kabupaten Magelang, seperti di Desa Paremono Kecamatan Mungkid oleh karena didukung ketersediaan air cukup baik musim kemarau maupun penghujan. Disamping itu usaha pembenihan dirasa lebih rnenguntungkan karena waktu yang digunakan relatif singkat kurang lebih 3 minggu – 1 bulan, serta pemasarannya pun mudah. Pembenihan ikan tawes ada beberapa cara yaitu pembenihan ikan di kolam, pembenihan di sawah dan pembenihan di hapa. Pengalaman Pembenihan Ikan Tawes di kolam yang dilakukan oleh MARZANI KTNA Paremono Mungkid ternyata cukup menggembirakan.
1. PEMILIHAN INDUK
  1. Untuk mendapatkan benih yang berkualitas dan jumlah yang banyak dalam pembenihan Tawes perlu dipilih induk yang baik dengan ciri-ciri :
    1. Letak lubang dubur terletak relatif lebih dekat ke pangkal ekor
    2. Kepala relatif lebih kecil dan meruncing
    3. Sisik-sisiknya besar dan teratur
    4. Pangkal ekor lebar dan kokoh
  2. Pada umumnya ikan tawes jantan mulai dipijahkan pada umur kurang lebih 1 tahun, dan induk tawes betina pada umur kurang lebih 1,5 tahun. Untuk
    mengetahui bahwa induk ikan tawes telah matang kelamin dan siap untuk dipijahkan dengan tanda-tanda sebagai berikut :
    1. Induk betina
  • Perutnya mengembang kearah genetal (pelepasan) bila diraba lebih lembek
  • Lubang dubur berwarna agak kemerah-merahan
  • Tutup insang bila diraba lebih licin
  • Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan kehitam-hitaman.
  1. lnduk jantan
  • Bila perut diurut dari arah kepala ke anus akan keluar cairan berwarna keputih-putihan (sperma)
  • Tutup insang bila diraba terasa kasar
2. PERSIAPAN KOLAM
  1. Kolam pemijahan ikan tawes sekaligus merupakan kolam penetasan dan kolam pendederan. Sebelum dipergunakan untuk pemijahan, kolam dikeringkan.
  2. Perbaikan pematang dan dasar kolam dibuat saluran memanjang (caren/kamalir) dari pemasukan air kearah pengeluaran air dengan lebar 40 cm dan dalamnya 20-30 cm.
3. PELEPASAN INDUK
  1. Induk ikan tawes yang telah terpilih untuk dipijahkan kemudian diberok, pemberokan dengan penempatan induk jantan dan betina secara terpisah
    selama 4-5 hari
  2. Setelah diberok kemudian induk ikan dimasukkan ke kolam pemijahan yang telah dipersiapkan
  3. Pemasukan induk ke kolam pada saat air mencapai kurang lebih 20 cm
  4. Jumlah induk yang dilepas induk betina 25 ekor dan induk jantan 50 ekor
  5. Pada sore hari kurang lebih pukul 16.00 air yang masuk ke kolam diperbesar sehingga aliran air lebih deras.
  6. Biasanya induk ikan tawes memijah pada pukul 19.00-22.00
  7. Induk yang akan memijah biasanya pada siang hari sudah mulai berkejar-kejaran di sekitar tempat pemasukan air.
4. PENETASAN TELUR
  1. Setelah induk ikan tawes bertelur, air yang masuk ke kolam diperkecil agar telur-telur tidak terbawa arus, penetasan dilakukan di kolam pemijahan juga
  2. Pagi hari diperiksa bila ada telur-telur yang rnenumpuk di sekitar kolam atau bagian lahan yang dangkal disebarkan dengan mengayun-ayunkan sapu lidi
    di dasar kolam
  3. Telur ikan tawes biasanya menetas semua setelah 2-3 hari
  4. Dari ikan hasil penetasan dipelihara di kolam tersebut selama kurang lebih 21 hari.
5. PEMUNGUTAN HASIL BENIH IKAN
  1. Panen dilakukan pada pagi hari
  2. Menyurutkan/mengeringkan kolam
  3. Setelah benih berada dikamalir/dicaren, benih ditangkap dengan menggunakan waring atau seser
  4. Benih ditampung di hapa yang telah ditempatkan di saluran air mengalir dengan aliran air tidak deras
  5. Benih lersebut selanjutnya dipelihara lagi di kolam pendederan atau dijual.
6. PENDEDERAN
  1. Mula-mula kolam dikeringkan selama 2-3 hari
  2. Perbaikan pematang, pembuatan caren/saluran
  3. Dasar kolam diolah dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 1 0 gr/m2 dan pupuk kandang 1 – 1,5 kg/m2 tergantung kesuburannya.
  4. Setelah kolam dipupuk kemudian diairi setinggi 2-3 cm dan dibiarkan 2-3 hari kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm
  5. Kemudian benih ditebar di kolam pendederan dengan padat tebar 10-20 ekor/m2
  6. Pemeliharaan dilakukan kurang lebih 3 minggu – 1 bulan.
  7. Selanjutnya dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di kolam pendederan II.
7. SUMBER
Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang; Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001
8. KONTAK HUBUNGAN
  1. Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang; Jln. Sendangsono, KM. 0,5 Progowati Mungkid Magelang, 56511; Tel. (0293) 789455; Fax.(0293)
    789455; bipp@magelang.wasantara.net.id
  2. Departemen Pertanian RI, Kantor Pusat Departemen Pertanian – Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan – Pasar Minggu, Jakarta 12550 – Indonesia

Sumber : http://konsumenikan.wordpress.com/budidaya-perikanan/budidaya-ikan-tawes/
Read More